Teori kebenaran filsafat dan ilmu
Tugas: Filsafat Ilmu
Teori kebenaran filsafat dan ilmu

DISUSUN OLEH KELOMPOK II:
NAMA : NIM :
LINDA
LESTARI SIREGAR 1520400029
IKA
SARILAN SIREGAR 1520400008
UMMI
LESTINA SIREGAR 1520400009
DOSEN
PENGAMPU:
DR. SEHAT SULTONI DALIMUNTHE
JURUSAN PENDIDIKAN
BAHASA ARAB
FAKULTAS TARBIYAH DAN
ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAM ISLAM
NEGERI PADANGSIDIMPUAN
T.A 2017
KATA PENGANTAR
Oó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOÏm§9$#
Syukur alhamdulillah kami ucapkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia-Nya sehingga dapat
menyelesaikan makalah ini. Shalawat
dan salam kepada Nabi Muhammad SAW yang telah bersusah payah dalam menyampaikan
ajaran Islam kepada umatnya untuk mendapat pegangan hidup di dunia dan
keselamatan pada akhirat nanti.
Makalah ini berjudul “TEORI KEBENARAN FILSAFAT DAN ILMU”. Dalam
menyusun makalah ini, penulis telah berupaya semaksimal mingkin untuk menyajikan
yang terbaik sesuai kemampuan penulis, harapannya semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi pembaca khususnya mahasiswa dalam menyusun makalah
selanjutnya sebagai referensi.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih banyak
lagi kekurangan dan kejanggalannya, namun demikian penulis banyak sekali
memperoleh bimbingan dari Bapak pembimbing serta yang lainnya. Untuk itu
penulis dalam kesempatan ini mengucapkan terima kasih.
Padangsidimpuan, 02
September 2017
Penulis,
DAFTAR ISI
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang............................................................................ 1
B.
Rumusan Masalah....................................................................... 1
BAB
II PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Kebenara Filsafat Ilmu.............................................. 2
B.
Teori Kebenaran.......................................................................... 4
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN............................................................................... 7
Daftar Pustaka.................................................................................. 8
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang Masalah
Manusia
selalu berusaha menemukan kebenaran. Beberapa cara ditempuh untuk memperoleh
kebenaran, antara lain dengan menggunakan rasio seperti para rasionalis dan
melalui pengalaman atau empiris. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusia
membuahkan prinsip-prinsip yang lewat penalaran rasional, kejadian-kejadian
yang berlaku di alam itu dapat dimengerti.
Ilmu
pengetahuan harus dibedakan dari fenomena alam. Fenomena alam adalah fakta,
kenyataan yang tunduk pada hukum-hukum yang menyebabkan fenomena itu muncul.
Ilmu pengetahuan adalah formulasi hasil aproksimasi atas fenomena alam atau
simplifikasi atas fenomena tersebut.
Struktur
pengetahuan manusia menunjukkan tingkatan-tingkatan dalam hal menangkap
kebenaran. Setiap tingkat pengetahuan dalam struktur tersebut menunjukkan
tingkat kebenaran yang berbeda. Pengetahuan inderawi merupakan struktur
terendah dalam struktur tersebut.
Oleh
sebab itulah pengetahuan ini harus dilengkapi dengan pengetahuan yang lebih
tinggi. Pada tingkat pengetahuan rasional-ilmiah, manusia melakukan penataan
pengetahuannya agar terstruktur dengan jelas.
B.
Rumusan
Masalah
- Pengertian kebenaran filsafat ilmu.
- Teori-teori kebenaran filsafat ilmu.
C.
Tujuan
Penulisan
- Agar mahasiswa mampu mengetahui pengertian dan tingkatan-tingkatan kebenaran ilmu pengetahuan.
- Mahasiswa mampu menjelaskan tentang teori-teori kebenaran ilmu pengetahuan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kebenaran Filsafat Ilmu
Kebenaran
adalah satu nilai utama di dalam kehidupan human. Sebagai nilai-nilai yang
menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusiawi atau martabat
kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha “memeluk” suatu kebenaran. Berbicara
tentang kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu
sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Di samping
itu proses untuk mendapatkannya haruslah melalui tahap-tahap metode ilmiah. Kriteria
ilmiah dari suatu ilmu memang tidak dapat menjelaskan fakta dan realitas yang ada.
Apalagi terhadap fakta dan kenyataan yang berada dalam lingkup religi ataupun
yang metafisika dan mistik, ataupun yang non ilmiah lainnya.
Di sinilah
perlunya pengembangan sikap dan kepribadian yang mampu meletakkan manusia dalam
dunianya. Penegasan di atas dapat kita pahami karena apa yang disebut ilmu
pengetahuan diletakkan dengan ukuran, pertama, pada dimensi fenomenalnya yaitu
bahwa ilmu pengetahuan menampakkan diri sebagai masyarakat, sebagai proses dan
sebagai produk. Pada dimensi strukturalnya, yaitu bahwa ilmu pengetahuan harus
terstruktur atas komponen-komponen, obyek sasaran yang hendak diteliti
(begenstand), yang diteliti atau dipertanyakan tanpa mengenal titik henti atas
dasar motif dan tata cara tertentu, sedang hasil-hasil temuannya diletakkan
dalam satu kesatuan system.[1]
Maksud
dari hidup ini adalah untuk mencari kebenaran. Tentang kebenaran ini, Plato
pernah berkata: “Apakah kebenaran itu? lalu pada waktu yang tak bersamaan,
bahkan jauh belakangan Bradley menjawab; “Kebenaran itu adalah kenyataan”,
tetapi bukanlah kenyataan (dos sollen) itu tidak selalu yang seharusnya (dos
sein) terjadi. Kenyataan yang terjadi bisa saja berbentuk ketidak benaran
(keburukan). Dalam bahasan, makna “kebenaran” dibatasi pada kekhususan makna
“kebenaran keilmuan (ilmiah)”.
Kebenaran
ini mutlak dan tidak sama atau pun langgeng, melainkan bersifat nisbi
(relatif), sementara (tentatif) dan hanya merupakan pendekatan.
Kebenaran intelektual yang ada pada
ilmu bukanlah suatu efek dari keterlibatan ilmu dengan bidang-bidang kehidupan.
Kebenaran merupakan ciri asli dari ilmu itu sendiri. Dengan demikian maka
pengabdian ilmu secara netral, tak bermuara, dapat melunturkan pengertian
kebenaran sehingga ilmu terpaksa menjadi steril. Uraian keilmuan tentang
masyarakat sudah semestinya harus diperkuat oleh kesadaran terhadap berakarnya
kebenaran. Selaras dengan Poedjawiyatna yang mengatakan bahwa persesuaian
antara pengatahuan dan obyeknya itulah yang disebut kebenaran. Artinya
pengetahuan itu harus yang dengan aspek obyek yang diketahui. Jadi
pengetahuan benar adalah pengetahuan obyektif. Meskipun demikian, apa yang
dewasa ini kita pegang sebagai kebenaran mungkin suatu saat akan hanya
pendekatan kasar saja dari suatu kebenaran yang lebih jati lagi dan demikian
seterusnya. Hal ini tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan manusia yang
transenden, dengan kata lain, keresahan ilmu bertalian dengan hasrat yang
terdapat dalam diri manusia. Dari sini terdapat petunjuk mengenai kebenaran
yang trasenden, artinya tidak henti dari kebenaran itu terdapat diluar
jangkauan manusia. Ilmu tanpa bimbingan moral agama adalah buta. Kebutaan moral
dari ilmu mungkin membawa kemanusiaan ke jurang malapetaka. Contoh
penyalahgunaan teknologi nuklir yang telah merenggut jutaan jiwa.[2]
Kebenaran
dapat dikelompokkan dalam tiga makna: kebenaran moral, kebenaran logis, dan
kebenaran metafisik. Kebenaran moral menjadi bahasan etika, ia menunjukkan
hubungan antara yang kita nyatakan dengan apa yang kita rasakan. Kebenaran
logis menjadi bahasan epistemologi, logika, dan psikologi, ia merupakan
hubungan antara pernyataan dengan realitas objektif. Kebenaran metafisik
berkaitan dengan yang-ada sejauh berhadapan dengan akalbudi, karena yang ada
mengungkapkan diri kepada akal budi. Yang ada merupakan dasar dari kebenaran,
dan akalbudi yang menyatakannya.
Randall
mengemukakan beberapa kebenaran ilmu secara umum di antaranya ialah:
- Hasil ilmu sifatnya akumulatif dan merupakan milik bersama. Artinya, hasil daripada ilmu yang telah lalu dapat dipergunakan untuk penyelidikan dan penemuan hal-hal yang baru, dan tidak menjadi monopoli bagi yang menemukannya saja, setiap orang dapat menggunakan, memanfaatkan hasil penyelidikan atau hasil penemuan orang lain.
- Hasil ilmu, kebenarannya tidak mutlak, dan bisa terjadi kekeliruan, karena yang menyelidikinya adalah manusia. Namun yang perlu diketahui, kesalahan-kesalahan itu bukan karena metodenya, melainkan terletak pada manusia yang menggunakan metode tersebut.
- Ilmu itu objektif, artinya prosedur cara penggunaan mtode ilmu tidak tergantung kepada yang menggunakannya, tidak tergantung kepada pemahaman secara pribadi. Berbeda dengan prosedur otoritas dan intuisi, yang tergantung kepada pemahaman secara pribadi. Ilmu dikatakan rasional, karena ilmu merupakan hasil dari proses berpikir dengan menggunakan akal, atau hasil berpikir secara rasional.[3]
Pada
umumnya, orang-orang menggolongkan filsafat itu pasti ke dalam ilmu-ilmu
pengetahuan. Walaupun filasafat iu muncul sebagai salah satu ilmu pengetahuan,
akan tetapi ia mempunyai struktur tersendiri dan tidak dapat begitu saja
dianggap sebagai “ilmu pengetahuan”. Sedikit banyak bagi setiap ilmu
pengetahuan berlaku, bahwa ilmu itu mempunyai struktur dan karakteristik
tersendiri. Studi tentang ilmu kedokteran adalah sesuatu yang berbeda sekali
dengan sejarah kesenian, dan ilmu pasti/matematika sesuatu yang berlainan
sekali dengan ilmu pendidikan. Akan tetapi untuk filsafat, hal yang
“tersendiri” ini berlaku dengan cara yang dasarnya lain.
Peter R
Senn dalam Ilmu Dalam Perspektif (Jujun Suriasumantri) meskipun tidak
secara gamblang ia menyampaikan bahwa ilmu memiliki bangunan struktur Van
Peursen menggambarakan lebih tegas bahwa “Ilmu itu bagaikan bangunan yang
tersusun dari batu bata. Batu atau unsur dasar tersebut tidak pernah langsung di
dapat di alam sekitar. Lewat observasi ilmiah batu-batu sudah dikerjakan
sehingga dapat dipakai kemudian digolongkan menurut kelompok tertentu sehingga
dapat dipergunakan. Upaya ini tidak dilakukan dengan sewenang wenang, melainkan
merupakan hasil petunjuk yang menyertai susunan limas ilmu yang menyeluruh akan
makin jelas bahwa teori secara berbeda- beda meresap sampai dasar ilmu.[4]
Jenis – jenis Ilmu pengetahuan
menurut Subjeknya antara lain sebagai berikut:
a) Teoti Nomotetis: ilmu yang
menetapkan hukum-hukum yang universal berlaku, mempelajari objeknya dalam
keabstrakan dan mencoba menemukan unsur-unsur yang selalu terdapat kembali
dalam segala pernyataan yang konkrit bilamana dan dimana saja. Misalnya, ilmu
alam, ilmu kimia, sosiologi, ilmu hayat.
b) Teori Ideografis (ide: cita-cita,
grafis: lukisan), ilmu yang mempelajari objeknya dalam konkrit menurut tempat
dan waktu tertentu, dengan sifat-sifatnya yang menyendiri (unik), misalnya:
ilmu sejarah, etnografi (ilmu bangsa-bangsa), sosiografi.
c) Praktis (Applied Science/
Ilmu Terapan): Ilmu yang langsung ditujukan kepada pemakaian atau pengalaman
pengetahuan itu, jadi menentukan bagaimanakah orang harus berbuat sesuatu.
Jenis-jenis
ilmu pengetahuan menurut objeknya:
a)
Universal/
umum: meliputi keseluruhan yang ada, seluruh hidup manusia, misalnya:
Teologi/agama dan Filsafat.
b) Khusus: hanya mengenai salah satu
lapangan tertentu dari kehidupan manusia, jadi objek terbatas, hanya ini saja
atau itu saja. Inilah yang biasa disebut “ Ilmu Pengetahuan ”. ini diperinci
lagi atas:
- Ilmu-ilmu alam (natural science,
natuurwetenscappen): yang mempelajari barang-barang menurut keadaannya di
alam kodrat saja, terlepas dari pengaruh manusia dan mencari hukum-hukum yang
mengatur apa yang terjadi di dalam alam, jadi terperinci lagi menurut objeknya,
misalnya: ilmu alam, ilmu fisika, ilmu kimia, ilmu hayat dan lai-lain.
- Ilmu pasti (Mathmatics), yang
memandang barang-barang, terlepas dari isinya hanya menurut besarnya. Jadi
mengadakan abstraksi barang-barang itu. Ilmunya dijabarkan secara logis
berpangkal pada beberapa asas-asas dasar (axioma). Misalnya, ilmu pasti, ilmu
ukur, ilmu hitung, ilmu aljabar,dsb.
- Ilmu-ilmu kerohanian/kebudayaan (Geisteswissen-schaf-ten/social-science).
Ilmu yang mempelajari hal-hal dimana jiwa manusia memegang peranan yang
mementukan. Yang dipandang bukan barang-barang seperti di alam dunia, terlepas
dari manusia, melainkan justru sekedar mengalami pengaruh dari manusia. Dan
karena manusia berbuat dengan berdasarkan kekuatan jiwanya dan jiwa dalam
Bahasa Jerman disebut “Geist”, maka gerombolan ilmu-ilmu yang memandang
perbuatan manusia dan hasil-hasil kegiatannya itu disebut “Geisteswissenscaften”.
Misalnya: ilmu sejarah, ilmu mendidik, ilmu hukum, ilmu ekonomi, ilmu
sosiologi, ilmu Bahasa.[5]
B. Teori Kebenaran
a) Teori Kebenaran Korespondensi
Kebenaran
korespondesi adalah kebenaran yang bertumpu pada relitas objektif.Kesahihan
korespondensi itu memiliki pertalian yang erat dengan kebenaran dan kepastian
indrawi. Sesuatu dianggap benar apabila yang diungkapkan (pendapat, kejadian,
informasi) sesuai dengan fakta (kesan, ide-ide) di lapangan.
Contohnya:
ada seseorang yang mengatakan bahwa Provinsi Yogyakarta itu berada di Pulau
Jawa. Pernyataan itu benar karena sesuai dengan kenyataan atau realita yang
ada. Tidak mungkin Provinsi Yogyakarta di Pulau Kalimantan atau bahkan Papua.
Cara
berfikir ilmiah yaitu logika induktif menggunakan teori korespodensi ini. Teori
kebenaran menurut korespondensi ini sudah ada di dalam masyarakat sehingga
pendidikan moral bagi anak-anak ialah pemahaman atas pengertian-pengertian
moral yang telah merupakan kebenaran itu. Apa yang diajarkan oleh nilai-nilai
moral ini harus diartikan sebagai dasar bagi tindakan-tindakan anak di dalam
tingkah lakunya.
b) Teori Kebenaran Koherensi
Teori ini disebut
juga dengan konsistensi, karena mendasarkan diri pada kriteria konsistensi
suatu argumentasi. Makin konsisten suatu ide atau pernyataan yang dikemukakan
beberapa subjuk maka semakin benarlah ide atau pernyataan tersebut. Paham
koherensi tentang kebenaran biasanya dianut oleh para pendukung idealisme,
seperti filusuf Britania.
Teori ini
menyatakan bahwa suatu proposisi (pernyataan suatu pengetahuan, pendapat
kejadian, atau informasi) akan diakui sahih atau dianggap benar apabila
memiliki hubungan dengan gagasan-gagasan dari proporsi sebelumnya yang juga
sahih dan dapat dibuktikan secara logis sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan
logika.
Sederhannya,
pernyataan itu dianggap benar jika sesuai (koheren/konsisten) dengan pernyataan
sebelumnya yang dianggap benar. Contohnya; Setiap manusia pasti akan mati. Soleh
adalah seorang manusia. Jadi, Soleh pasti akan mati.[6]
c) Teori Kebenaran
Pragmatik/Pragmatisme
Artinya,
suatu pernyataan itu benar jika pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan
itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Teori pragmatis ini
pertama kali dicetuskan oleh Charles S. Peirce dalam sebuah makalah yang terbit
pada tahun 1878 yang berjudul “How to Make Our Ideas Clear“.
Dari
pengertian diatas, teori ini (teori Pragmatik) berbeda dengan teori koherensi
dan korespondensi. Jika keduanya berhubungan dengan realita objektif, sedangkan
pragmamtik berusaha menguji kebenaran suatu pernyataan dengan cara menguji
melalui konsekuensi praktik dan pelaksanaannya.
Pegangan
pragmatis adalah logika pengamatan. Aliran ini bersedia menerima pengalaman
pribadi, kebenaran mistis, yang terpenting dari semua itu membawa akibat
praktis yang bermanfaat.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Semua
teori kebenaran itu ada dan dipraktekkan manusia di dalam kehidupan nyata. Yang
mana masing-masing mempunyai nilai di dalam kehidupan manusia. Teori Kebenaran
mempunyai Kelebihan Kekurangan Korespondensi sesuai dengan fakta dan empiris
kumpulan fakta-fakta Koherensi bersifat rasional dan positivistik.
Dari beberapa Teori Tentang Kebenaran dapat disimpulkan
bahwa:
Teori Korespondensi:
“Kebenaran/keadaan benar itu berupa kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh
sebuah pendapat dengan apa yang sungguh merupakan halnya/faktanya”
Jadi
berdasarkan teori korespondensi ini, kebenaran/keadaan benar itu dapat dinilai
dengan membandingkan antara preposisi dengan fakta atau kenyataan yang
berhubungan dengan preposisi tersebut. Bila diantara keduanya terdapat
kesesuaian (korespondence), maka preposisi tersebut dapat dikatakan
memenuhi standar kebenaran/keadaan benar.
B. Saran
Dari
makalah kami yang singkat ini mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua
umumnya kami pribadi. Yang baik datangnya dari Allah, dan yang buruk datangnya
dari kami. Dan kami sadar bahwa makalah kami ini jauh dari kata sempurna, masih
banyak kesalahan dari berbagai sisi, jadi kami harapkan saran dan kritiknya
yang bersifat membangun, untuk perbaikan makalah-makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Adib, Muhammad, Filsafat Ilmu:
Ontologi, Epistimologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. 2010.
Bakhtiar, Amsal, Filsafat Ilmu, Jakarta:
Rajawali Pers, 2014.
Ahmad, Beni Saebani. “Filsafat
Ilmu: Kontemplasi Filosofis tentang Seluk-beluk Sumber dan Tujuan Ilmu
Pengetahuan, Bandung: Pustaka Setia, 2009.
Kattsoff, Louis O, Pengantar Filsafat, Yogyakarta:
Tiara Wacana, 2004.
Suriasumantri, Jujun S. “Filsafat
Ilmu: Sebuah Pengantar Populer“. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2007.
[1] Muhammad
Adib, Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistimologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), h. 39
[2]Jujun S.
Suriasumantri, “Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer“, ( Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan, 2007), h. 78
[5]Ahmad, Beni
Saebani. “Filsafat Ilmu: Kontemplasi Filosofis tentang Seluk-beluk Sumber
dan Tujuan Ilmu Pengetahuan, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), h. 132.
[6]Bakhtiar,
Amsal, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), h. 111-121.
Komentar
Posting Komentar