FILSAFAT, ILMU, DAN FILSAFAT ILMU



FILSAFAT, ILMU, DAN FILSAFAT ILMU
                                                    
D
I
S
U
S
U
N
Oleh:

                   Nama                                                                           NIM
YULI NILLA SARI                                                   1520400006
                       ENI KAMILAH HUSNI                                            1520400017
MUHTADINA                                                             1520400031

     
DOSEN PEMBIMBING:
DR. SEHAT SULTONI DALIMUNTHE

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI  (IAIN) PADANGSIDIMPUAN
2017



KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur ke hadirat Allah swt. Karena berkah hidayah-Nya makalah ini dapat diselesaikan. Makalah ini dapat disusun dengan harapan dapat membantu dalam mengikuti mata perkuliahan Filsafat Ilmu.
Pada kesempatan ini pula kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dosen yang telah membimbing dan memberikan arahannya dalam pembuatan makalah kami yang berjudul Pengertian Filsafat, Ilmu, dan Filsafat Ilmu.
Semoga setelah kita membaca makalah ini, kita dapat memahami dan menambah wawasan mengenai masalah Filsafat, Ilmu, dan Filsafat Ilmu. Dalam pembuatan makalah ini, kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Terlepas dari kekurangan-kekurangan makalah ini, kami berharap semoga makalah ini bermamfaat bagi pembaca.

Padangsidimpuan,                        2017

Penulis








DAFTAR ISI

Kata Pengantar.......................................................................................................... i
Daftar Isi................................................................................................................... ii
BAB I
Pendahuluan
A.    Latar belakang............................................................................................... 1
B.     Rumusan masalah.......................................................................................... 1
C.     Tujuan........................................................................................................... 1
BAB II
Pembahasan
A.     Pengertian filsafat......................................................................................... 2
B.     Pengertian ilmu............................................................................................. 4
C.     Pengertian filsafat ilmu................................................................................. 5

BAB III
Penutup
A.    Kesimpulan…………………………………………………………………10
Daftar Pustaka………………………………………………………………………11

  



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Filsafat telah berhasil mengubah pola pemikiran bangsa Yunani dan ummat manusia dari pandangan mitosentris menjadi logosentris. Awalnya bangsa Yunani dan bangsa lain di dunia beranggapan bahwa semua kejadian di alam ini dipengaruhi oleh para dewa. Karenanya para dewa harus dihormati sekaligus di takuti kemudian disembah.
Dengan filsafat, pola pikir yang tergantung pada dewa diubah menjadi pola pikir yang tergantung pada rasio. Kejadian alam, seperti gerhana tidak lagi dianggap sebagai kegiatan dewa yang tertidur, tetapi merupakan kejadian alam yang disebabkan oleh matahari, bulan, dan bumi berada pada garis yang sejajar, sehingga bayang-bayang bulan menimpa sebagian permukaan bumi.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian filsafat?
2.      Apa pengertian ilmu?
3.      Apa pengertian filsafat ilmu?

C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian filsafat
2.      Untuk mengetahui pengertian ilmu
3.      Untuk mengetahui pengertian filsafat ilmu


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Filsafat
1.      Dari sisi kebahasaan (etimologis)
Kata filsafat atau falsafat, berasal dari bahasa Yunani. Kalimat ini berasal dari kata Philosophia yang berarti cinta pengetahuan. Terdiri dari kata philos yang berarti cinta, senang, suka, dan kata shopia berarti pengetahuan, hikmah, dan kebijaksanaan. Hasan Shadily mengatakan bahwa filsafat menurut asal katanya adalah cinta akan kebenaran. Dengan demikian dapat ditarik suatu pengertian bahwa filsafat adalah cinta kepada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka kepada hikmah atau kebijaksanaan. Jadi orang yang berfilsafat adalah orang yang mencintai kebenaran, berilmu pengetahuan, ahli hikmah dan bujaksanaan. [1]
Orang yang ahli dalam berfilsafat disebut philosopher (Inggris), dan orang Arab menyebutnya Failasuf, kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi fhilosof. Pemikiran secara filsafat sering diistilahkan dengan pemikiran filosofis.
Dalam pengertian yang lebih luas Harol Titus, mengemukakan pengertian filsafat sebagai berikut:
a.       Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara kritis.
b.      Filsafat adalah suatu proses suatu proseskritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi.
c.       Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan.
d.      Filsafat adalah analisa logis dari bahasan serta penjelasan tentang arti konsep.
e.       Filsafat ialah sekumpulan problema-problemayang langsung mendapat perhatian manusia dan dicarikan jawabannya oleh ahli filsafat.
Di zaman Yunani, filsafat bukan merupakan suatu disiplin teoritis dan special, akan tetapi suatu cara hidup yang konkrit, suatu pandangan hidup yang total tentang manusia dan alam yang menyinari seluruh kehidupan seseorang. Selanjutnya dengan kehidupan atau perkembangan peradaban manusia dan problema kehidupan yang dihadapinya, maka pengertian yang bersifat teoritis seperti yang di lahirakan filsafat Yunani kehilangan kemampuannya untuk member jawaban yang layak tentang kebenaran itu.

2.      Sejarah Kelahiran Filsafat
Berbicara tentang kelahiran dan perkembangan filsafat pada awal kelahirannya tidakdapat dipisahkan dengan perkembangan (ilmu) pengetahuan yang munculnya pada peradaban kuno (masa Yunani).
Pada tahun 2000 SM bangsa Babylon yang hidup di pembah sungai Nil (Mesir) dan sungai Efrat, telah mengenal alat pengukur berat, table bilangan berpangkat, table perkalian dengan menggunakan sepuluh jari.[2]
Piramida yang menjadi salah satu keajaiban dunia itu, yang ternyata pembuatannya menerapkan geometrid an matematika, menunjukkan cara berpikirnya sudah tinggi. Selain itu, mereka sudah dapat mengadakan kegiatan pengamatan benca-benda langit, baik bintang, bulan, matahari sehingga dapat meramalkan gerhana baik gerhana bulan maupun gerhana matahari. Ternyata ilmu yang mereka pakai dewasa ini disebut astronomi.
Di India dan Cina waktu itu telah ditemukan cara pembuatan kertas dan kompas (sebagai penunjuk arah).

3.      Kegunaan Filsafat
Kajian lain yang sangat terkait dengan filsafat ialah kegunaan filsafat, yaitu untuk apa kajian filsafat dilakukan. Tanpa pertimbangan ini mempelajari filsafat ini menjadi sesuatu yang kurang bermakna.[3] Karena itulah para filsuf dan pemerhati kefilsafatan mengajukan beberapa manfaat dari kajian ini. Secara umum dapat di simpulkan yaitu sebagai berikut:
a.       Filsafat mampu memberikan pemahaman yang menyeluruh (general) terhadap suatu wujud (ontologi), sekaligus memberikan konsep kebenaran (justifikasi) terhadap wujud tersebut.hasil pemikiran filsafatdi pandang benar ,manakala di produksi dari pemikiran yang maksimal, dan dengan kebenaran yang dicapai tersebut manusia akan daapt bertindak benar dan bijaksana. Inilah maksud dari philoshopia, cinta kebenaran dan kebijaksanaa.
b.      Kelanjutan yang diatas, ialah memperoleh kebijaksanaan. Harold H. Titus dalam bukunya Living Issues in Philosopy menjelaskan: “Apabila tujuan seni ialah kreatifitas, kesemprnaan bentuk, keindahan, komunikasi dan ekspresi, maka tujuan (kegunaan) filsafat ialah pengertian dan kebijaksanaan (understanding and wisdom)”. Oleh karena itu, filsafat disamping mampu memberikan pengertian sekaligus memberikan gambaran dari suatu pengertian sekaligus memberikan gambaran dari suatu pengertian (kebenaran dibalik kebenaran). Karena adanya pengertian (kebenaran) di balik pengertian (kebenaran) inilah filsafat selalu mengajak manusia untuk bertindak bijaksana, sesuai namanya, yaitu philo dan sophia.
c.       Filsafat dapat memberikan kepuasan bagi seseorang (filsuf) karena kemampuannya dalam menggambarkan problem kehidupan yang sedang dan akan dihadapi, sesuai dengan keluasan dan pemahamannya.
d.      Filsafat dapat dijadikan sebagai dasar pijakan untuk mengadakn perobahan dunia. Jadi filsafat tidak hanya sekedar menjelaskan dunia, melainkan juga merubahnya, seperti kata Karl Marx: “The philosopher have only interpreted the world in different way. The poin however is to change it”.
e.       Bagi kalangan agamawan, filsafat dapat dijadikan sebagai pendukung atau penguat terhadap keyakinan agama. Misalnya konsep ketuhanan yang biasanya hanya diterima secara absolute dengan argumentasi naqli (al-Quran dan Hadist).

B.     Pengertian Ilmu
Ilmu berasal dari bahasa Arab, yakni “ilm” yang diartikan pengetahuan. Dalam filsafat, ilmu dan pengetahuan itu berbeda, pengetahuan bukan berarti ilmu, tetapi ilmu merupakan akumulasi pengetahuan, sebagaimana berbedanya antara science dan knowledge dalam bahasa Inggris.[4]
Kata “ilm” dalam bahasa Arab menggunakan tiga huruf, yaitu huruf ‘ain, lam, dan miem. Menurut Muhammad, tiga huruf itu mempunyai makna tersendiri, yakni:
1.      Huruf ‘ain bentuknya di depan ibarat mulut yang posisinya pengetahuan itu tidak akan pernah kenyang. Seseorang yang berilmu akan terus mencari pembenaran-pembenaran ilmiah untuk semua yang dipikirkannta. Setiap hari ilmu digunakan manusia untuk meningkatakan derajat kehidupannya.
2.      Huruf lam sesudah ‘ain, panjangnya tidak terbatas. Boleh menjulang sampai kelangit dan menjangkau cakrawala yang nun jauh disana. Itu pertanda bahwa mencari ilmu tidak mengenal batas usia. Semua berhak melakukannya, bahakan sejak buaian ibu hingga masuk ke liang lahat.
3.      Huruf terakhir huruf miem, yang meletakkan diri di dasar, menunduk pertanda kefakiran ilmunya. Artinya, meskipun ilmu pengetahuan telah menjulang tinggi, seorang yang ‘alim harus rendah hati bagaikan ilmu padi, makin berisi makin tertunduk, tawadhu.
Pada dasarnya, pengetahuan merupakan objek utama filsafat ilmu, dan atu ilmulah yang menjadi objek filsafat ilmu. Karena jika terdapat pengetahuan, akan dipertanyakan secara epistemology, dari mana asal pengetahuan tersebut, bagaimana memperolehnya. Demikian pula, apabila yang dihadapi adalah ilmu, pertanyaannya pun sama.
 Oleh karena itu, ilmu pengetahuan merupakan objek kajian epistemologi. Akan tetapi ketika pertanyaan tersebut dijawab bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman, muncul pertanyaan bagaimana memperoleh pengalaman tersebut, atau bahwa ilmu berasal dari kesepakatn para ilmuan setelah menemukan pengetahuan yang mengujinya maka dipertanyakan, bagaimana melakukan pengujianterhadap pengetahuan yang dimaksudkan. Sampai ke akar-akarnya, pertanyaan yang berkaitan denga seluk beluk segala bentuk pengetahuan merupakan kajian filsafat ilmu.

C.    Pengertian Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu, kata lain dari epistomologi, berasal dari bahasa Latin, episteme yang berarti knowledge, yaitu pengetahuan, logos berarti theory. Jadi epistomologi bararti”teoei pengetahuan” atau teori tentang metode, cara, dan dasar dari ilmu pengetahuan, atau studi tentang hakikat tertinggi, kebenaran, dan batasan ilmu manusia. Dalam filsafat, efistomologi adalah cabang filsafat yang meneliti asal, struktur, metode-metode, dan keshahihan pengetahuan. Istilah “epistomologi” pertama kali di pakai oleh J. F. Ferrier, institutes of Metaphysics (1854 M) yang membedakan dua cabang filsafat: epistomologi dan ontologi. Epistomologi berbeda dengan logika. Jika logika merupakan sains formal yang berkenaan dengan atau tentang prinsip-prinsip penalaran yang shahih, epistomologi adalan sains filosofis tentang asal usul pengetahuan dan kebenaran.[5]
Filsafat ilmu atau epistomologi adalisis filosofis terhadap sumber-sumber pengetahuan. Dari mana dan bagaimana pengetahuan diperoleh, menjadi pengetahuan epistomologis, sebagai contoh bahwa semua pengetahuan berasal dari Tuhan (innama al ‘ilm min’indillah, la ‘ilmalana illa ma ‘allamtana), artinya Tuhan sebagai sumber pengetahuan. Adapun landasan ontologism suatu ilmu mejelaskan objek yang ditelaah ilmu tersebut, wujud hakikinya serta bagaimana hubungan objek tersebut dengan daya tangkap manusia, seperti berpikir, merasa, dan mengindra, yang membuahkan pengetahuan.
 Landasan epistomologi suatu ilmu menjelaskan proses dan prosedur yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan berupa ilmu serta hal-hal yang harus diperhatikan agar diperoleh pengetahuan yang benar. Menjelaskan kebenaran serta kriterianya, dan cara yang membantu mendapatkan pengetahuan dalam filsafat menjadi kajian ontologis.
Epistomologis mempersoalkan kebenaran pengetahuan. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang telah memiliki unsur-unsur epistomologis yang dinyatakan secara sistematis dan logis. Dalam epistomologis diperbincangakan secara lebih rinci mengenai dasar, batas, dan objek pengetahuan. Menurut Sutarjo A. Wiramihardja (2006:32), epistomologi berbeda dengan filsafat ilmu. Epistomologis mempersoalakan kebenaran pengatahuan, sedangkan filsafat ilmu secara khusus memperbincangkan ilmu atau keilmuan pengetahuan.
Berkaitan dengan pemikiran diatas, terdapat empat jenis kebenaran yang secara umum telah dikenal oleh orang banyak, yaitu:
1.      Kebenaran religious
2.      Kebenaran filosofis
3.      Kebenaran estetis
4.      Kebenaran ilmiah
Sifat setiap ilmu, sebagaimana kebenaran mutlak dan relative, dapat diidentikkan denganteori sifat ilmu, sebagaimana dijelaskan oleh Juhaya S. Pradja bahwa teori sifat ilmu ada dua yakni teori “subjektivitas dan “onjektivitas”. Teori itu dirumuskan dari kaidah “adziamah mutsya’ibah” yang terjemahkan dengan “teori agung yang bercabang banyak”. Teori ini menyatakan bahwa setiap ilmu memiliki dua sifat. Pertama, sifat tabi’ yan diaratikan dengan sifat objektif, kedua, sifat matbu’ yang dapat diartikan dengan sifat subjektif.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa filsafat ilmu adalah filsafat yang mengkaji seluk beluk dan tata cara untuk memperoleh suatu pengetahuan, sumber-sumber pengetahuan, metode dan pendekatan yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan logis dan rasional. Filsafat ilmu disebut juga dengan epistomologi, yang memulai cara kerjanya dengan mengajukan pertanyaan, “Dari mana pengetahuan itu diperoleh? Bagaimana cara memperolehnya, dan mengapa pengetahuan yang diperoleh demikian adanya?”.
  Adapun tujuan filsafat ilmu adalah sebagai berikut:
1.      Mendalami unsure-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu.[6]
2.      Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan ilmu di berbagai bidang, sehingga kit adapt mendapat gambaran tentangproses ilmu kontemporer secara historic.
3.      Menjadi pedoman bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalami studi di perguruan tinggi, terutama untuk membedakan persoalan yang ilmiah dan nonilmiah.
4.      Mendorong para calon ilmuan dan iluman untuk kensisten dalam mendalami ilmu dan mengembangkannya.
5.      Mempertegas bahwa dalam persoalan sumber dan tujuan antara ilmundan agama tidak ada pertentangan.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kata filsafat atau falsafat, berasal dari bahasa Yunani. Kalimat ini berasal dari kata Philosophia yang berarti cinta pengetahuan. Terdiri dari kata philos yang berarti cinta, senang, suka, dan kata shopia berarti pengetahuan, hikmah, dan kebijaksanaan. Ilmu berasal dari bahasa Arab, yakni “ilm” yang diartikan pengetahuan. Dalam filsafat, ilmu dan pengetahuan itu berbeda, pengetahuan bukan berarti ilmu, tetapi ilmu merupakan akumulasi pengetahuan, sebagaimana berbedanya antara science dan knowledge dalam bahasa Inggris.
Filsafat ilmu, kata lain dari epistomologi, berasal dari bahasa Latin, episteme yang berarti knowledge, yaitu pengetahuan, logos berarti theory. Jadi epistomologi bararti”teoei pengetahuan” atau teori tentang metode, cara, dan dasar dari ilmu pengetahuan, atau studi tentang hakikat tertinggi, kebenaran, dan batasan ilmu manusia.
                                        













DAFTAR PUSTAKA

            Asmoro Ahmadi, Filsafat Umum, Jakarta: Rajawali Pers, 2014.

            Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013.

            Beni Ahmad Saebani, Filsafat Ilmu, Bandung: Pustaka Setia, 2009.

            Hasan Bakti, Filsafat Umum, Bandung: Citapustaka Media, 2005.

            Jalaluddin, Filsafat Pendidikan, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997.

               


                                                                       














                                                


[1] Jalaluddin, Filsafat Pendidikan, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), hlm. 9  
[2] Asmoro Ahmadi, Filsafat Umum, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), hlm. 22
[3] Hasan Bakti, Filsafat Umum, (Bandung: Citapustaka Media, 2005), hlm.34
[4] Beni Ahmad Saebani, Filsafat Ilmu, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm. 35
[5] Ibid., hlm. 30
[6]  Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013), hlm. 20



Komentar

Postingan populer dari blog ini

METODE TAJRIBI DAN BURHANI

METODE IRFANI DAN BAYANI