METODE IRFANI DAN BAYANI
METODE IRFANI DAN BAYANI

D
I
S
U
S
U
N
OLEH
NAMA NIM
HUSNATUL HAMIDIYYAH
SIREGAR 15 204 00033
NAIMAH HAYATI LUBIS 15 204 00014
DOSEN PEMBIMBING
:
DR. SEHAT SULTONI DALIMUNTHE
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM
PADANGSIDIMPUAN
2017
KATA
PENGANTAR
ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOÏm§9$#
Dengan menyebut nama
Allah Shubhanallahu Wata’ala yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
segala puji bagi Allah Shubhanallahu Wata’ala yang telah melimpahkan rahmat dan karunia serta hidayah kepada kita semua.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar kita,
yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada kita jalan
yang lurus berupa ajaran agama Islam yang sempurna dan menjadi anugerah serta rahmat bagi seluruh alam semesta.
Penulis sangat bersyukur karena telah menyelesaikan makalah
yang menjadi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu dengan judul
"Metode Irfani dan Bayani". Disamping itu, kami mengucapkan banyak terimakasih
kepada semua pihak yang telah membantu kami selama pembuatan makalah ini
berlangsung sehingga terealisasikanlah makalah ini.
Demikian yang dapat kami
sampaikan, semogama kalah ini bisa bermanfaat dan jangan lupa ajukan kritik dan
saran terhadap makalah ini agar kedepannya bisa diperbaiki.
Padangsidmpuan, September 2017
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1
A.
Latar Belakang.......................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah..................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................... 2
A.
Pengertian
Metode Irfani.......................................................................... 2
B.
Asal Usul
Metode Irfani........................................................................... 3
C.
Keunggulan dan
Keterbatasan Irfani........................................................ 4
D.
Pengertian
Metode Bayani........................................................................ 5
E.
Asal Usul
Metode Bayani......................................................................... 6
F.
Keunggulan dan
Keterbatasan Bayani...................................................... 7
BAB III PENUTUP............................................................................................. 8
A.
Kesimpulan................................................................................................ 8
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Filsafat
jika ditelisik menurut tahapannya, yaitu: ontologi (apa), epistimologi
(bagaimana) dan aksiologi (untuk apa), akan tampak keterkaitan diantara
tahapan-tahapan tersebut yang saling memberi makna. Ontologi akan menemukan
epistimologi yang juga akan menentukan aksiologi. Dan epistimologi adalah unsur
utamanya.
Dalam
khazanah filsafat islam dikenal metodologi pemikiran yaitu pemikiran irfani dan
bayani. Bayani adalah sebuah model metodlogi berfikir yang didasarkan atas teks
dan teks sucilah yang mempunyai otoritas penuh untuk memberikan arah tujuan dan
arti kebenaran. Sedangkan metode irfani adalah model metodologi yang didasarkan
atas pendekatan dan pengelaman langsung atas realitas spiritual keagamaan.
Kedua metodologi tersebut dalam lembaran
sejarah telah menorehkan prestasinya masing-masing. Metode bayani telah
membesarkan disiplin fiqh dan teologi (ilmu kalam) sedangkan irfani menelurkan
teori besar dalam sufisme.
B. Rumusan
Masalah
1.
Apakah pengertian metode irfani dan
bayani?
2.
Bagaimana asal usul metode irfani dan
bayani?
3.
Apa keunggulan dan keterbatasan metode
irfani dan bayani?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Metode Irfani
Irfani merupakan bahasa arab yang
memiliki makna asli, yaitu sesuatu yang berurutan yang sambung satu sama lain
dan bermakna diam dan tenang. Namun secara harfiyah al-irfan adalah mengetahui
sesuatu dengan berfikir dan mengkaji secara dalam. Secara terminologi, irfani
adalah pengungkapan atas pengetahuan yang diperoleh lewat penyinaran hakikat
oleh Tuhan kepada hambanya (al-kasy) setelah melalui riyadhoh.
Contoh dari pendekatan irfani lainnya
adalah falsafah isyraqi yang memandang pengetahuan diskursif (al-hikmah
al-batiniyyah) harus dipadu dengan pengetahuan intuitif (al-hikmah
al-zawqiyah). Dengan pemaduan tersebut pengetahuan yang diperoleh menjadi
pengetahuan yang mencerahkan, bahkan akan mencapai al-hikmah al-haqiqiyyah.
Pengalaman batin Rasulullah SAW dalam menerima wahyu al-Quran merupakan contoh
dari pengetahuan irfani.[1]
Implikasi dari pengetahuan irfani dalam
konteks pemikiran keislaman, adalah menghampiri agama-agama pada tataran
substantif dan esensi spritualnya, dan mengembangkannya dengan penuh kesadaran
akan adanya pengalaman keagamaan orang lain (the otherness) yang berbeda aksidensi
dan ekspresinya, namun memilki substansi dan esensi yang kurang lebih sama.
Dalam filsafat, irfani lebih dikenal dengan istilah intuisi.
Dengan intuisi, manusia memperolah pengetahuan secara tiba-tiba tanpa melalui
proses penalaran tertentu. Ciri khas intuisi antara lain: zauqi (rasa) yaitu
melalui pengalaman langsung, ilmu huduri yaitu kehadiran objek dalam diri
subjek, dan eksistensial yaitu tanpa melalui kategeorisasi akan tetapi
mengenalnya secara intim. Henry Bregson menganggap intuisi merupakan hasil dari
evolusi pemikiran yang tertinggi tetapi bersifat personal.
Mengenai taksonomi epistimologi
pengetahuan irfani adalah dari segi sumber pengetahuan, ia bersumber dari
kedalaman wujud sang arif itu sendiri dari segi media atau alat pengetahuan ia
bersumber dari kedalaman kesejatian wujud sang arif daris egi objek
pengetahuan, ia menjadikan wujud sebagai objek kajiannya dari segui cara
memperoleh pengetahuan, ia diperoleh dengan cara menyelami wujud kedirian
melalui metode riyadhoh.[2]
Dapat disimpulkan bahwa metode irfani
(intuitif) digunakan untuk memahami secara langsung realitas metafisis yang
bersifat huduri dalam jiwa manusia dan menghasilkan pengetahuan mistik.
B. Asal
Usul Metode Irfani
Para
pakar berbeda pendapat tentang asal mula sumber irfani. Pendapat tersebut dapat
dikalsifikasi dalam beberapa poin sebagai berikut:[3]
1.
Sebagian golongan menganggap bahwa
irfani berasal dari persia dan majusi seperti yang disampiakn oleh Dozy dan
Thoulk. Alasannya bahwa sejumlah orang-orang besar sufi berasal dari Khurasan
dan kelompok Majusi.
2.
Sebagian yang lain mengatakan bahwa
irfani bersumber dari Kristen sebagaimana yang diuangkapkan oleh Von Kramer,
Ignaz Goldziher, Nicholshon. Alasan mereka dapat dikelompokkan dalam dua poin,
yaitu:
a.
Interaksi yang terjadi antara orang Arab
dan kaum Nasrani pada masa jahiliyyah dan islam.
b.
Kesamaan kehidupan antara sufi dan yesus
dan rahib dalam masalah ajaran, tata cara riyadhoh, dan tata cara berpakaian.
3.
Sebagian besar yang lain berpendapat
bahwa irfani bersumber dari India seperti pendapat Horten dan Hartmen. Alasan
yang diajukan adalah:
a.
Kemunculan dan penyebaran irfani pertama
di Khurasan.
b.
Kebanyakan para sufi angkatan pertama
bukan dari kalangan Arab.
c.
Turkistan adalah pusat agama dan
kebudayaan tidur dan Barat sebelum Islam yang sedikit banyak memberi pengaruh
mistisme.
d.
Konsep dan meode irfani seperti keluasan hati
dan pamakaian tasbih merupakan praktik-praktik dari India.
4.
Sebagian yang lain berpendapat bahwa
irfani berasal dari yunani khususnya Neoplatonisme dari Yunani. Alasannya
sederhana bahwa theologi Aristoteles merupakan paduan antara sistem prophiry
dan proclus yang sudah dikenal dalam Islam.
Namun
demikian bahwa irfani tidak berasal dari luar islam sebab kehidupan Rasulullah
SAW. Para sahabat dan tabi’in menunjukkan bahwa mereka dalam suatu waktu akan
menggunakan irfani, meskipun penanamannya belum ada.
C. Keunggulan
dan Keterbatasan Irfani
Diantara
keunggulan Irfani adalah bahwa segala pengetahuan yang bersumber dari
intusi-intuisi musyahadah dan musyakafah lebih dekat dengan kebenarannya dari
pada ilmu-ilmu yang digali dari argumentasi-argumentasi rasional dan akal.
Bahkan kalangan sufi menyatakan bahwa indra-indra manusia dan fakultas akalnya
hanya menyentuh wilayah lahiriyyah alam dan manifestasi-manifestasinya. Namun
manusia dapat berhubungan secara
langsung (immediate) yang bersifat intuitif dengan hakikat tunggal alam (Allah)
melalui dimensi-dimensi batiniyyah sendiri dan hal ini akan sangat berpengaruh
ketika manusia telah suci, lepas, dan jauh dari segala bentuk ikatan-ikatan dan
ketergantungan-ketergantungan lahiriyyah.
Namun
kendala atau keterbatasan irfani adalah bahwa ia hanya dapat dinikmati oleh
segelintir manusia yang mampu sampai pada taraf pensucian diri yang tinggi.
Disamping itu irfani sangat subjektif menilai sesuai karena ia berdasar pada
pengalaman individu manusia.
Metode
kasyf dalam kritik epistimologi, bukanlah suatu pola yang berada di atas akal,
seperti yang diklaim irfaniyyun. Bahkan ia tidak lebih dari sekedar pemikiran
yang paling rendah dan bentuk pemahaman yang tidak terkendali. Irfaniyyun masuk
ke alam mistis yang telah ada dalam pemikiran agama-agama Persi kuno, yang
dikembangkan pemikir-pemikir Hermeticism.
Pendekatannya
yang supra-rasional menafikan kritik atas nalar, serta pijakannya pada logika
paradoksal yang segalanya bisa diciptakan tanpa harus berkaitan dengan
sebab-sebab yang mendahuluinya, mengakibatkan epistimologi ini kehilangan
dimensi kritis dan terjebak pada nuansa magisyang berandil besar pada
kemunduran pola pikir manusia. [4]
D. Pengertian
Metode Bayani
Kata
bayani berasal dari bahasa arab yaitu al- bayani yang secara harfiah bermakna
sesuatu yang jauh atau sesuatu yang terbuka. Namun secara terminologi, ulama
berbeda pendapat dalam mendefenisikan al-bayani. Ulama ilmu Al-Bhalagoh
misalnya mendefinisikan al-bayani sebagai sebuah ilmu yang dapat mengetahui
satu arti dengan melalui beberap cara atau metode seperti tasbih (penyerupaan),
majaz dan kinayah. Ulama kalam mengatakan bahwa bayani adalah dalil yang dapat
menjelaskan hukum. Sebagian yang lain mengatakan bahwa al-bayani dalah ilmu
baru yang dapat menjelaskan sesuatu atau ilmu yang dapat mengeluarkan sesuatu
dari kondisi samar kepada kondisi jelas.
Namun
dalam epistimologi silam bayani adalah metode pemikiran khas Arab yang
menekankan pada otoritas teks (nash) secara langsung atau tidak langsung dan
dijustifikasi oleh akal kebahsaan yang digalih lewat inferensi (istidlal). [5]
Oleh karena itu
secara langsung bayani adalah mamahami teks sebagai pengetahuan. Jadi dan
langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran. Namun secara tidak langsung
bayani berrarti memahami teks sebagai pengetahuan mental sehingga perlu tafsir
dan penalaran. Meski demikian, hal ini tidak berarti akal atau rasio bisa bebas
menentukan makna dan maksudnya, tetapi tetap harus bersandar pada teks.
Sehingga dalam bayani, rasio dianggap tidak mampu memberikan pengetahuan
kecuali disandarkan pada teks. Dalam perspektif keagamaan, sasaran bidik metode
bayani adalah aspek eksoteric (syariat).
Dengan demikian,
epistimologi bayani pada dasarnya telah digunakan para fuqaha (pakar fiqih),
mutakallimun (theolog) dan usulliyun (pakar usul fiqih). Dimana mereka
menggunakan bayani untuk:[6]
a.
Memahami atau menganalisis teks guna menemukan
atau mendapatkan makna yang dikandung atau dikehendaki dalam lafaz, dengan kata
lain pendekatan ini dipergunakan untuk mengeluarkan makna zahir dari lafaz yang
zahir pula.
b.
Istinbat (pengkajian) hukum-hukum dari
al-nusus al-diniyyah (al-Quran dan Hadits)
Dalam
bahasa filsafat yang disederhanakan pendekatan bayani dapat diartikan sebagai
model metodologi berpikir yang didasarkan atas teks. Dalam hal ini teks sucilah
yang memilki otoritas penuh menentukan arah kebenaran. Fungsi akal hanya
sebagai pengawal makna yang terkandung didalamnya yang dapat diketahui melalui
pencermatan hubungan antara makna dan lafaz. Dan metode bayani (observasi)
ditujukan untuk melakukan pengkajian terhadap objek-objek yang bersifat
indriawi dan menghaqsilkan pengetahuan sains.
Hubungan
antara makna dan lafaz dapat dilihat dari segi:[7]
a.
Makna wadih: untuk apa makna teks itu
dirumuskan yang meliputi makna khos, ‘am dan musytarak.
b.
Makna istima’ yaitu makna apa yang
digunakan oleh teks, meliputi makna haqiqoh dan makna majaz.
c.
Derajat al-wuduh yaitu sifat dan
kualitas lafaz meliputi muhkam mufassar, zahir, khafi, musykil dan mujmal.
d.
Thuruq al-dilalah yaitu penunjukan lafaz
terhadap makna, meliputi dilalah al-manzum dan dilalah al-mafhum.
E. Asal
Usul Metode Bayani
Kronologi
bayani dimulai dari masa Rasulullah SAW dimana beliau menjelaskan ayat-ayat
yang sulit dipahami oleh sahabat. Kemudian para sahabta menfsirkan Al-Quran
dari ketetapan yang telah diberikan Rasulullah SAW melalui teks. Selanjutnya
tabi’in mengumpulkan teks-teks dari Rasulullah SAW dan sahabat, kemudian mereka
menambahkan penafsirannya dengan kemampuan nalar dan ijtihadnya dengan teks
sebagai pedoman utama.Akhirnya datang kemudian generasi setelah tabi’in yang
melakukan penafsiran sebagaimana pendahuluannya sampai berkelanjutan kepada
generasi yang lain. [8]
F. Keunggulan
dan Keterbatasan Bayani
Keunggulan bayani terletak pada
kebenaran teks (Al-Quran dan Hadits) sebagai sumber utama hukum islam yang
bersifat universal sehingga menjadi pedoman dan patokan.
Dalam epistimologi bayani sebenarnya ada
penggunaan rasio, akan tetapi relatif sedikit dan sangat bergantung pada teks
yang ada. Penggunaan yang terlalu dominan epistimologi ini menimbulkan stagnasi
dalam kehidupan beragama, karena ketidakmampuannya merespon perkembangan zaman.
Hal ini dikarenakan epistimologi bayani selalalu menempatkan akal menjadi
sumber sekunder sehingga peran akal menjadi terpasung dibawah bayang-bayang
teks dan tidak menempatkannya secara sejajar, saling mengisi dan melengkapi
dengan teks. [9]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun
kesimpulan dari pembahasan di atas adalah sebagai berikut:
1.
Metode irfani adalah metode yang
beranggapan bahwa ilmu pengetahuan adalah kehendak (iradhah) dan metode yang
khas dalam mendapatkan pengetahuan yaitu kasy yang tidak bisa dirasionalkan dan
diperdebatkan. Dan penganut metode ini adalah para suf
2.
Metode bayani adalah metode yang
beranggapan bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah wahyu (teks) atau penalaran
dari teks, seperti ilmu hadis, fiqh dll.
DAFTAR
PUSTAKA
A.
Bachrun
Rifai dkk, Filsafat Thasawuf, Bandung: Pustaka Setia, 2010
Kartanegara,
Mulyadhi, Menyibak Tirai Kejahilan Pengantar Epistimologi Islam,
Bandung: Mizan Pustaka, 2003
Kartanegara,
Mulyadi, Menembus Batas Waktu Panorama Filsafat Islam, Bandung: Mizan
Pustaka, 2005
Saifullah,
Ali, Antara Filsafat dan Pendidikan,
Surabaya: Usaha Nasional, 1989
Komentar
Posting Komentar