Ontologi



ONTOLOGI
MAKALAH
D
I
S
U
S
U
N
Oleh
   CICI RAMADATI                          152 040 0011
                                YUNI YUSRA                               152 040 0015
AYU AGUSTINA                         152 040 0024
DosenPembimbing:
DR. SEHAT SULTONI DAIMUNTHE
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)
IAIN PADANG SIDIMPUAN
T.A 2016/2017


KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur ke hadirat Allah swt. Karena berkat hidayah-Nya makalah ini dapat di selesaikan. Makalah ini dapat di susun dengan harapan dapat membantu dalam mengikuti mata perkuliahan Filsafat Ilmu .
Pada kesempetan ini pula pemakalah mengucapkan terima kasih kepada bapak Dosen yang telah membimbing dan memberikan arahannya dalam pembuatan makalah yang berjudul Epistemologi.
Semoga setelah membaca makalah ini, kita dapat memahami dan menambah wawasan mengenai masalah Epistemologi. Dalam pembuatan makalah ini, pemekalah menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Terlepas dari kekurangan-kekurangan makalah ini, pemakalah berharap semoga makalah ini  bermanfaat bagi pembaca dan menjadikan amal saleh bagi kami . Amiin...
                                         
Padangsidimpuan,  10 September 2017


Penulis



                                                                              

DAFTAR ISI

 KATA PENGANTAR................................................................................... i
    DAFTAR ISI............................................................................................. ii
        BAB I
   PENDAHULUAN...................................................................................... 1
        BAB II
A.    PengertianOntologi............................................................................. 2
B.     Pandangan-pandangandalamkajianontologi....................................... 4

BAB III
KESIMPULAN............................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 10


BAB 1
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Dasar-dasar ilmu itu ada tiga yaitu ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Masing-masing memiliki fungsi yang terdapat pada kajian filsafat. Dan dapat dikatakan bahwa ketiga dasar-dasar berkembang pesat dalam kehidupan masyarakat.
Untuk memperoleh pengetahuan filosof menghadapi objek-objek dengan membenahi cara bagaimana untuk memperoleh nya. Objek-objek itu dipikirkan secara mendalam sampai pada hakikatnya. Inilah sebabnya bagian ini dinamakan teori hakikat. Dan ada yang mengatakan bagian ini adalah bagian ontologi.
B.       Rumusan Masalah
1.      Apa Yang Dimaksud Dengan Ontologi?
2.      Apa Saja Pandangan-Pandangan Dalam Kajian Ontologi?

C.      Tujuan Masalah
1.      Mengetahui Apa Itu Ontologi
2.      Mengetahui Apa-Apa Saja Pandangan Dalam Kajian Ontologi




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Ontologi
Ontologi berarti ilmu hakikat yang menyelidiki alam nyata dan bagaimana keadaan yang sebenarnya, apakah hakikat di balik alam nyata ini. Ontologi menyelidiki hakikat dari segala sesuatu dari alam nyata yang sangat terbatas bagi pancaindra kita.[1] Ontologi atau teori hakikat luas sekali segala yang ada dan mungkin ada, yang mencakup dengan pengetahuan dan nilai. Nama lain untuk teori hakikat ialah teori tentang keadaan (Langveld). Hakikat adalah realitas, realitas adalah ke-real-an; “real” artinya kenyataan yang sebenarnya, jadi hakikat adalah kenyataan yang sebenarnya, keadaan sebenarnya sesuatu, bukan keadaan sementara atau keadaan yang menipu, bukan juga keadaan yang berubah.
Kata ontologi berasal dari perkataan yunani ,on = being, dan Logos = logic. Jadi ontology adalah the theory of being qua being ( teori tentang keberadaan sebagai keberadaan). Lois o kattsoff dalam elements of fhilosophy mengatakan, ontology itu mencari ultimate reality dan menceritakan bahwa diantara contoh pemikiran ontologi adalah pemikiran Thales, yang berpendapat bahwa airlah yang menjadi ultimate substance yang mengeluarkan selmua benda. Jadi asal semua benda hanya satu saja yaitu air.
Ahmad Tasir mencontohkan tentang hakikat makna demokrasi dan fatamorgana. Pada hakikatnya pemerintahan demokratis menghargai pendapat rakyat. Mungkin orang pernah menyaksikan pemerintahan itu melakukan tindakan sewenang-wenang, tidak menghargai pendapat rakyat. Itu hanyalah keadaan sementara, bukan hakiki, yang hakiki pemerintahan itu demokratis. Tentang hakikat fatamorgana dicontohkan, kita melihat suatu objek fatamorgana. Apakah real atau tidak? Tidak, fatamorgana itu bukan hakikat, hakikat fatamorgana itu ialah tidak ada.[2] Pembahasan tentang ontologi sebagai dasar ilmu berusaha menjawab “apa” yang menurut Aristoteles merupakan The first philosophy dan merupakan dan merupakan ilmu mengenai esensi benda.[3]
Sementara itu ontologi menurut para ahli lain adalah menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental dan cara yang berbeda dimana entitas dari kategori-kategori yang logis yang berlainan (objek-objek fisis, hal universal, abstraksi) dapat dikatakan ada dalam kerangka tradisional ontologi dianggap sebagai teori mengenai prinsip-prinsip umum dari hal ada, dipandang sebagai teori mengenai apa yang ada.[4]
Dan menurut Amsal Bakhtiar Dalam Bukunya Filsafat Agama 1 mengatakan ontologi berasal dari kata ontos = sesuatu yang berwujud. Ontologi adalah teori/ilmu tentang wujud, tentang hakikat yang ada. Ontologi tidak banyak berdasar pada alam yang nyata, tetapi berdasar pada logika semata-semata.[5]
            Dari beberapa pengetahuan di atas dapat disimpulkan bahwa:
1.      Menurut bahasa, ontologi berasal dari bahasa Yunani yaitu, On/Ontos = ada, dan Logos = ilmu. Jadi, ontologi adalah tentang yang ada.
2.      Menurut istilah, ontologi ialah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani/konkret maupun rohani/abstrak.
Didalam pemahaman ontologi dapat diketemukan pandangan-pandangan pokok pikiran sebagai berikut:

1.      Monoisme
Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang asal, baik yang asal berupa materi ataupun berupa rohani. Tidak mungkin ada hakikat masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Haruslah salah satumya merupakan sumber yang pokok dan dominan menentukan perkembangan yang lainnya. Istilah monism oleh Thomas Davidson disebut dengan block universe. Paham ini kemudian terbagi menjadi dua aliran.[6]
a.      Materialisme
Aliran ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani. Aliran ini sering juga disebut dengan naturalisme. Meurutnya bahwa zat mati itu merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta. Yang ada hanyalah materi, yang lainnya jiwa atau ruh itu hanyalah merupakan akibat saja dari proses gerakan kebenaran dengan salah satu cara tertentu. Walaupun ini sering disebut aliran naturalisme, sebenarnya ada sedikit perbedaan dua paham ini. Namun begitu, materialism dapat dianggap suatu penampakan diri dari naturalisme. Naturalism berpendapat bahwa alam saja yang ada, yang lainnya diluar alam tidak ada. Yang dimaksud alam disini  ialah segala-galanya, melupiti benda dan ruh. Jadi benda dan ruh sama nilainya dianggap sebagai alam yang satu. Sebaliknya, materlialisme menganggap ruh adalah kejadian dari benda. Jadi tidak sama nilai benda dan ruh seperti dalam naturalisme. Menurut teori ini semua materi tersusun dari sejumlah bahan yang disebut unsur.
Aliran pemikiran ini dipelopori oleh bapak filsafat yaitu thales (624-546 SM). Ia berpendapat bahwa unsur asal adalah air karena pentingnya bagi kehidupan.[7]
b.      Idealisme
Sebagai lawan materialisme adalah aliran idealisme yang dinamakan juga dengan spiritualisme. Idealisme berarti serba cita, sedang spiritualisme berarti ruh.
Idealisme diambil dari kata “idea”, yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu semua berasal dari ruh (sukma) atau sejenis dengannya, yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang. Materi atau zat itu hanyalah suatu jenis dari pada penjelmaan rohani.
Alasan aliran ini menyatakan bahwa hakikat benda adalah rohani, spirit atau sebangsanya adalah:
a)      Nilai ruh lebih tinggi daripada badan, lebih tinggi nilainya dari materi bagi kehidupan manusia.
b)      Manusia lebih dapat memahami dirinya daripada dunia luar dirinya.
c)      Materi ialah kumpulan energy yang menempati ruang. Benda tidak ada, yang ada energi itu saja.
Materi bagi penganut idealisme sebenarnya tidak ada. Segala kenyataan ini termasuk kenyataan manusia adalah ruh. Ruh itu tidak hanya menguasahi manusia perorangan, tetapi juga kebudayaan. Jadi kebudayaan adalah perwujudan dari alam cita-citaa ituadalah rohani. Karenanya aliran ini dapat disebut idealism dan dapat disebut spiritualisme.
2.      Dualisme
Setelah kita memahami hakikat itu satu (monisme) baik materi ataupun rohani, ada juga pandangan yang mengatakan bahwa hakikat itu ada dua. Aliran ini disebut dualisme. Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohani, benda dan ruh, jasad dan spirit. Hubungan keduanya menciptakan kehidupan dalam alam ini. Contoh yang paling jelas tentang adanya kerja sama kedua hakikat ini ialah dalam diri manusia.[8] Umumnya manusia tidak akan mengalami kesulitan untuk menerima prinsip dualisme ini, karena setiap kenyataan lahir dapat seegera ditangkap oleh panca indra kita, sedang kenyataan batin dapat segera diakui adanya oleh akal dan perasaan hidup.


3.      Pluralisme
Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme  bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata.
4.      Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa latin yang berarti nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif. Istilah nihilisme diperkenalkan oleh ivan turgeniev dalam novelnya fathers and children yang ditulisnya tokoh sentral mengadakan lemahnya kutukan ketika ia menerima ide nihilisme.
Doktrin memberikan tiga proposisi tentang realitas. Pertama, tidak ada sesuatu pun yang eksis. Realitas itu tunggal dan banyak, terbatas dan tidk terbatas, dicipta dan tidak dicipta. Karena kontradiksi tidak dapat diterima, maka pemikiran lebih baik tidak menyatakkan apa-apa tentang realitas. Kedua, bila sesuatu yang ada, ia tidak dapat diketahui. Ini disebabkan oleh penginderaan itu tidak dapat dipercaya, pengideraan itu sumber ilusi. Ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain.[9]
5.      Agnotisisme
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda. Baik hakikat materi ataupun hakikat rohani. Timbulnya aliran ini dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan secara konkret akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat kita kenal. Aliran ini dengan tegas selalu menyangkal adanya sesuatu kenyataan mutlak yang bersifat trancedent.
Agnotisisme adalah paham pengingkaran atau penyangkalan manusia mengetahui hakikat benda baik materi ataupun rohani. Aliran ini mirip dengan skeptisime yang berpendapat bahwa manusia diragukan kemampuannya mengetahui hakikat. Namun tampaknya agnotisisme lebih baik dari itu karena menyarah sama sekali.















KESIMPULAN
1.      Ontologi berarti ilmu hakikat yang menyelidiki alam nyata dan bagaimana keadaan yang sebenarnya, apakah hakikat di balik alam nyata ini. Ontologi menyelidiki hakikat dari segala sesuatu dari alam nyata yang sangat terbatas bagi pancaindra kita.
2.      Didalam pemahaman ontologi dapat diketemukan pandangan-pandangan pokok pikiran sebagai berikut:
a.    Monoisme.
Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua.
a)      Materialisme
b)      Idealisme
b.    Dualisme
Setelah kita memahami hakikat itu satu (monisme) baik materi ataupun rohani, ada juga pandangan yang mengatakan bahwa hakikat itu ada dua. Aliran ini disebut dualisme. Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohani, benda dan ruh, jasad dan spirit.
c.    Pluralisme
Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme  bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata.
d.   Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa latin yang berarti nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif. Istilah nihilisme diperkenalkan oleh ivan turgeniev dalam novelnya fathers and children yang ditulisnya tokoh sentral mengadakan lemahnya kutukan ketika ia menerima ide nihilisme.















DAFTAR PUSTAKA

A.    Dardiri, Humaniora, Filsafat Dan Logika, (Jakarta: Rajawali, ed 1, cet 1,         1986.
  Ahmad Tasir, Filsafat Ilmu, Bandung: Rosdakarya, 2002.
 Amsal bakhtiar, Filsafat Agama 1, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, cet 1, 1997.
Jalaluddin, Dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2011.
  Romdon, Ajaran Ontologi Aliran Kebatinan, Jakarta: Rajawali Perss, ed. 1. Cet 1, 1996.




[1]Jalaluddin, Dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2011) hlm, 77.
[2] Ahmad Tasir, Filsafat Ilmu, (Bandung: Rosdakarya, 2002), hlm. 24.
[3] Romdon, Ajaran Ontologi Aliran Kebatinan, (Jakarta: Rajawali Perss, ed. 1. Cet 1, 1996), hlm. 10.
[4]A. Dardiri, Humaniora, Filsafat Dan Logika, (Jakarta: Rajawali, ed 1, cet 1, 1986, hlm. 17.
[5]Amsal bakhtiar, Filsafat Agama 1, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, cet 1, 1997), hlm. 169.
[6]Ibid, hal. 363.
[7] Ahmad Tafsir, op.cit., hlm. 29.
[8]Ibid, hlm. 51..
[9]Ahmad Tafsir, op. cit. hlm. 515.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

METODE TAJRIBI DAN BURHANI

METODE IRFANI DAN BAYANI

FILSAFAT, ILMU, DAN FILSAFAT ILMU