METODE TAJRIBI DAN BURHANI



 


METODE TAJRIBI DAN BURHANI
    D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
TUKMA PUTRI STP                                                                      1520400004
FITRINI                                                                                            1520400002
RIZKY NURHABIBAH                                                                  1520400016
DOSEN PENGAMPU
Dr. SEHAT SULTONI  M.Ag

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PADANGSIDIMPUAN
 T.A 2017


KATA PENGANTAR
Makalah ini disusun sebagai tugas untuk memenuhi persyaratan dalam mengiuti proses belajar pada mata kuliah Tarjamah yang diampuh oleh beliau Dr Sehat Sultoni yang senantiasa mendampingi dan membimbing kami dalam proses belajar. Tidak lupa penulis ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pembimbing yang telah memberi motivasi dan pengarahan dalam melaksanakan tugas ini.
Pada akhirnya hanya kepada Allah penulis berserah diri dan berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Segala puji bagi Allah SWT . Tuhan semesta alam yang telah menciptakan bumi seisinya untuk dipelihara dan digunakan manfaatnya dengan sebaik-baiknya, serta menjadikan manusia makhluk yang sempurna untuk berpikir dan berkembang lebih maju sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini.
Sholawat dan salam senantiasa tersanjungkan kepada junjungan Nabi kita, Nabi Agung Muhammad SAW. Yang senantiasa diharapkan syafaat darinya besok di hari pembalasan.



                                                                        Padangsidimpuan, 11 September 2017







DAFTAR ISI

 Kata Pengantar………………………………………………………………………………i                     Daftar Isi……………………………………………………………………………………ii                                                                                                                                                                              
BAB I                                                                                                                                                             PENDAHULUAN                                                                                                                             A.  Latar Belakang …………………………………………………………………..1                        B.  Rumusan Masalah………………………………………………………………...1
BAB II                                                                                                                                                                        PEMBAHASAN                                                                                                                                A.  Komponen Sifat dan Hakikat Kejiwaan Manusia      ………………………………..2                    B.  Kekuatan-Kekuatan Umum Jiwa Manusia………………………………………..3                  C.  Aktivitas-Aktivitas  Kejiwaan Manusia…………………………………………...5
BAB III                                                                                                                                                          PENUTUP                                                                                                                                                A.  Kesimpulan………………………………………………………………………..9
Daftar Pustaka      ………………………………………………………………………..iii       


BAB I PENDAHULUAN
Metode ilmu pengetahuan bertitik tolak dari pertanyaan bagaimanakah cara mendapatkan pengetahuan secara ilmiah? Ilmiah artinya mengetahui pengetahuan sebagaimana adanya. Misalnya bintang kecil di langit yang biru. Tentu kita tahu bahwa itu tidak kecil dan ketika ada bintang pun langit tidak biru.
 Jika berbicara ilmiah maka itu belum ilmiah, karena pengetahuan tentang bintang itu belum sebagaimana adanya atau masih indra saja. Untuk mencapai pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya, maka kemudian ada metodologi ilmiah menjadi penting. Karena dengana metododlogi ini maka kita akan bisa mencapai pengetahuan objektif. Karena para saintis terus mencapai sampai mendapatkan pengetahuan yang memuaskan.
Jika kita berbicara metode ilmiyah dibidang sains, itu ada maka mereka hanya ,membatasi metode ilmiyah itu pada satu saja yaitu metode observasi atau disebut juga eksperimen. Dalam bahasa arab disebut tajribi. Artimya berdasarkan pengalaman. Kata yang berkaitan dengan tajribi adalah mujarrab artinya sudah teruji.
Sedangkan menurut Muhammad Abd Al-Jabiri[1], metode ilmu pengetahuan dalam islam dapat diperoleh dengan tiga cara yaitu: (1) metode bayani, (2) metode burhani, (3) metode irfani.

           










BAB II PEMBAHASAN
A. Metode Tajribi
          Tajribi artinya Eksperimen yang dipakai sebagai metode ilmiah untuk meneliti bidang-bidang empiris jadi termasuk didalamnya metode Observasi. Pengamatan atau observasi adalah aktivitas yang dilakukan makhluk cerdas terhadap suatu proses atau objek dengan maksud merasakan dan kemudian memahami pengetahuan dari sebyah fenomena berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang sudah diketahui sebelumnya, untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan untuk melanjutkan suatu penelitian ilmu. Ilmu pengetahuan biologi dan astronomi mempunyai dasar sejarah dalam pengamatan oleh amatir. Didalam penelitian, observasi dapat dilakukan dengan tes, kuesioner, rekaman gambar dan rekaman suara.
Sebenarnya metode ini sudah dipakai pada masa-masa awal kebangkitan ilmiah islam yakni abad ke 9 dan ke 10. Metode ini sangat penting mengingat pengamatan terhadap benda-benda melalui alat indra tidak selalu akurat karna terdapat kekurang yang intrinsik terhadap alat indra kita maka diperlukan observasi. Sebagai contoh kekurangan alat indrawi manusia : Mata tidal bisa melihat dirinya sendiri, mata tidak bisa melihat hal yang terlalu jauh dan hal yang terlalu dekat, mata tidak bisa melihat hal-hal yang ada di balik tirai sementara akal bisa, mata hanya bisa melihat hal-hal yang lahir tetapi akal bisa melihat entitas rasional disamping objek-objek indra.
Mengingat ada banyak kekurangan yang ada pada alat indrawi kita, bagaimana kita dapat mendapatkan pengetahuan yang orisinil maka diperlukanlah suatu metode yang digunakan untuk mengamati objek-objek yang ditelitinya terdapat dua metode yang terdapat dalam tradisi islam yang dilakukan dalam objek fisik, yakni level teoritis dimana ilmuan islami mengkaji dengan seksama dan kritis karya-karya ilmiah dari bidang fisika tertentu misal astronomi dan kedokteran. Selanjutnya level praktis dimana para sarjana muslim melakukan berbagai eksprimen untuk membuktikan atau menolak teori misalnya mengenai penglihatan yang akhirnya mereka dapat menyimpulkan bahkan menemukan metode baru.
Setelah para ilmuan muslim mendapatkan metode baru dan mendapatkan hasil akurat dan objektif terhadap sebuah benda untuk mendapatkan kesalahan sabjektif dari seorang pengamat maka para ilmuan muslim kemudian dilanjutkan dan dikembangkan oleh ilmuan-ilmuan barat sampai taraf yang begitu canggih misalnya melakukan pengukuran yang begitu canggih seperti jarak yakni meter, kilometer dan beban misalnya kilogram, pon, pons, maka muncullah satuan-satuan ukuran. Selain menciptakan alat ukur para ilmuan juga menciptakan alat ukur para ilmuan juga menciptakan alat untuk mempermudah sesuatu yang kecil dan tidak Nampak bagi mata seperti  mikroskop, metode tajribi juga harus mengikuti prosedur pengambilan putusan atau kesimpulan bagi pemgamatnya itu baik bersifat deduktif bisa atau kiyas pengambilan kesimpulan dan prisip-prinsip umum menuju yang khusus atau deduktif yakni menari kesimpulan dari objek-objek particular.[2]
B. Metode Burhani
            Objek pengetahuan dalam islam tidak hanya di batasi pada hal yan fisik saja tetapi juga dan non fisik. Padahal kita tau bahwa indra kita memiliki kekurangan dalam mengetahui objek yang non fisik, maka untuk mengetahuinya kita membutuhkan alat bantu lain alat yang dimaksud adalah dalam tradisi islam, karna akal mampu mengetahui banyak hal yang tidak dapat dilakukan oleh indra, adapun beberapa contoh kelebihan akal : akal dapat melihat dalam artian dapat memahami bukan hanya objek-objek yang lain tetapi dirinya sendiri ia dapat mempersepsi dirinya sebagai yang mengetahui dan kuat ia dapat melihat pengetahuan dengan dirinya.
            Kedua mata tidak bisa melihat yang terlalu jauh dan terlalu dekat sementara akal dapat mempersepsinya karna jauh dan dekat tidak ada masalahnya pada akal dalam sekejap akal dapat mengetahui yang ada dilangit yang tinggi dalam sekejap akan dapat turun dan menuruni inti bumi, sementara mata dapat melihat sesuatu yang ada dibalik cadar atau sesuatu yang tertutup tetapi akal dapat dengan mudah bergerak kedalam Arsy yang terletak di balik hijab langit-langit, dan sementar akal hanya dapat melihat yang lahir makan akal dapat merasakan yang batil seperti cinta, kesedihan, sedangkan masalah batin seperti jiwa dan ruh.
Burhan secara bahasa adalah argumentasi yang kuat dan jelas. Dalam istilah logika, al-burhan adalah aktivitas intelektual untuk membuktikan kebenaran suatu proposisi melalui pendekatan deduksi dengan cara menghubungkan proposisi yang satu yang telah terbukti secara aksiomatik. Dengan demikian, burhan merupakan aktifitas intelektual untuk menetapkan suatu proposisi tertentu.[3]
Untuk mendapatkan pengetahuan, epistemology burhani menggunakan aturan silogisme. Dalam bahasa arab, silogisme diterjemahkan dengan al-qiyas, al-jam’I yang mengacu pada makna asal, mengumpulkan.[4]
Nalar burhani berpegang pada kekuatan natural manusia yang berupa indar dan otoritas akal dalam memperoleh pengetahuan.[5] Dengan demikian Agus najib mengatakan dalam burhan, akal memiliki peran dang fungsi yang paling utama. Karna itu dengan menggunkan premis-premis logika yang konsisten, akal berusaha menemukan pengetahuan dari realitas yang ada (al-waqi’), baik realitas alam, sosial, humanitas, maupun keagamaan.
Menurut keyakinan para filosofis kesimpulan tersebut niscaya benar, dank karena itu berkorespondensi dengan syarat bahwa premis mayor dan minornya merupakan proposisi yang kebenarannya tidak di ragukan.
1.      Perkembanga burhani
Prinsip burhani pertama kali dibangun oleh aristoteles yang dikenal dengan istilah metode analitik (tahlil ), yaitu suatu cara berpikir yang didasarkan atas proposisi tertentu pada masa alexander aprodisi murid serta aristoteles, digunakan istilah logika ketika masuk pada khasanah pemikiran islam berganti nama menjadi burhani. Cara berpikir analitik aristoteles ini, masuk kepada pemikiran islam pertama kali lewat program penterjemahan buku-buku filsafat yang gencar dilakukan pada masa pemerintahan Al-makmun.
Sarjana yang pertama mengenalkan dan menggunakan metode burhani adalah Al-kindi. Namun, karena masih dominannya kaum bayani dan minimnya referensi maka metode burhani tidak begitu bergema. Metode burhani akhirnya benar-benar mendapat tempat dalam sistem pemikiran islam setelah masa Al- parabi.
                                                          















BAB III KESIMPULAN
Tajribi artinya Eksperimen yang dipakai sebagai metode ilmiah untuk meneliti bidang-bidang empiris jadi termasuk didalamnya metode Observasi. Pengamatan atau observasi adalah aktivitas yang dilakukan makhluk cerdas terhadap suatu proses atau objek dengan maksud merasakan dan kemudian memahami pengetahuan dari sebyah fenomena berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang sudah diketahui sebelumnya, untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan untuk melanjutkan suatu penelitian ilmu.
     Objek pengetahuan dalam islam tidak hanya di batasi pada hal yan fisik saja tetapi juga dan non fisik. Padahal kita tau bahwa indra kita memiliki kekurangan dalam mengetahui objek yang non fisik, maka untuk mengetahuinya kita membutuhkan alat bantu lain alat yang dimaksud adalah dalam tradisi islam, karna akal mampu mengetahui banyak hal yang tidak dapat dilakukan oleh indra.










DAFTAR PUSTAKA
F. Haught Jhon, Perjumpaan Sains dan Agama(Bandung : Mizan, 2004
Katanegara Mulyadi, Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam, Jakarta : baitul ihsan, 2006
Khodori Ahmad, al-jaribi M. abed, Model Epistemologi Hukum Islam dalam Pemikiran kontemporer, Yogyakarta : jendela, 2003
Agus najib Muhammad, nalar burhani dalam hukum islam, Hermenia, 2003


[1] Jhon F. Haught, Perjumpaan Sains dan Agama,(Bandung : Mizan, 2004), hal.2
[2] Mulyadi katanegara, Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam, (Jakarta : baitul ihsan, 2006) hal 187.
[3] M. abed al-jaribi, Model epistemologi Hukum Islam dalam Pemikiran kontemporer, (Yogyakarta : jendela, 2003), hal 224
[4]Ahmad khodori, M. abed al-jaribi, Model epistemologi Hukum Islam dalam Pemikiran kontemporer, (Yogyakarta : jendela, 2003), hal 250
[5] Muhammad Agus najib, nalar burhani dalam hukum islam, (Hermenia, 2003), hal 224.
 



           
 



Komentar

  1. اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ‎ Mba, ini fira masih idak di mba buku ttg metode tajribi.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

METODE IRFANI DAN BAYANI

FILSAFAT, ILMU, DAN FILSAFAT ILMU