METODE FILSAFAT DAN METODE ILMIAH
KELOMPOK : VI (ENAM)
NAMA : SURYA NINGSIH
MUNAWAROH
MUHAMMAD SURETNO
METODE
FILSAFAT DAN METODE ILMIAH
A.
PENDAHULUAN
Secara
etimologi metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos”. Methodos adalah
gabungan dari dua kata yaitu Meta dan Hodos. Meta berarti “dibelakang”,
“dibalik” atau “sesudah”, sedangkan Hodos berarti “jalan” atau “cara”. Jadi
metode adalah apa yang ada dibalik cara atau jalan.
Dalam konteks
keilmuan metode berarti cara atau prosedur yang ditempuh dalam rangka mencapai
kebenaran. Langkah-langkah dalam metode harus dapat dipertanggungjawabkan
secara ilmiah dihadapan akal budi, runtut, logis, rasional, dan konsisten.
Metode dimaksudkan agar langkah-langkah pencarian kebenaran-kebenaran ilmiah
dapat dilaksanakan secara tertib dan terarah, sehingga dapat dicapai hasil
optimal.
Metode dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
metode umum dan metode khusus.
1.
Metode Umum, terdiri dari metode
deduktif-induktif dan metode analisis-sintesis.
2.
Metode Khusus, terdiri dari metode operasional
khas tiap-tiap ilmu atau kelompok ilmu.
Pada dasarnya
setiap ilmu mempunyai metode khasnya masing-masing. Metode berkaitan dengan
operasi atau riset dalam ilmu yang bersangkutan. Metode dalam khasanah dunia
filsafat ada dua :
1.
Metode berfilsafat yaitu cara berfilsafat.
2.
Metode penelitian filsafat yaitu alat atau
perangkat untuk mengkaji, meneliti, atau menelaah karya-karya filsafati. Jadi,
ini merupakan instrument penelitian.
B.
METODE FILSAFAT
Sebenarnya jumlah metode filsafat hampir sama banyaknya dengan
defenisi dari para ahli dan filsuf sendiri karena metode ini adalah suatu alat
pendekatan untuk mencapai hakikat sesuai dengan corak pandangan filsuf itu
sendiri. Penjelasan secara singkat metode-metode filsafat yang khas adlah
sebagai berikut:
1. Metode Kritis : Socrates dan plato
Metode ini
bersifat analisis istilah dan pendapat atau aturan-aturan yang di kemukakan
orang. Merupakan hermeneutika, yangmenjelaskan keyakinan dan memperlihatkan
pertentangan. Dengan jalan bertanya (berdialog), membedakan, membersihkan, menyisihkan
dan menolak yang akhirnya di temukan hakikat.
2.
Metode Intuitif
: Plotinus dan bergson
Dengan jalan
metode intropeksi intuitif dan dengan pemakaian simbol-simbol di usahakan
membersihkan intelektual (bersama dengan pencucian moral), sehingga tercapai
suatu penerangan pemikiran. Sedangkan bergson dengan jalan pembauran antara
kesadaran dan proses perubahan, tercapai pemahaman langsung mengenai kenyataan.
3.
Metode
Skolastik : aristoteles, thomas aquinas, filsafat abad pertengahan.
Metode ini
bersifat sintetis-deduktif dengan bertitik tolak dari defenisi-defenisi atau
prindip-prinsip yang jelas dengan sendirinya di tarik kesimpulan-kesimpulan.
4.
Metode
Geometris : rene descartes dan pengikutnya
Melalui
analisis mengenai hal-hal kompleks di capai intiuisi akan hakikat-hakikat
sederhana (ide terang dan berbeda dari yang lain), dari hakikat-hakikat itu di
dedukasikan secara matematis segala pengertian lainnya.
5.
Metode
Empiris :Hobbes, Locke, Berkeley, David Hume
Hanya
pengalamanlah menyajikan pengertian benar, maka semua pengertian (ide-ide)
dalam intropeksi di bandingkan dengan cerapan-cerapan (impresi) dan kemudian di
susun bersama secara geometris.
6.
Metode
Transendental : Immanuel Kant dan Neo skolastik
Metode ini
bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu dengan jalan analisis di
selidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian demikian.
7.
Metode
fenomenologis : Husserl, Eksistensialisme
Yakni dengan
jalan beberapa pemotongan sistematis (reduction), refleksi atau fenomin dalam
kesadaran mencapai penglihatan hakikat-hakikat murni. Fenomelogi adalah suatu
aliran yang membicarakan tentang segala sesuatu yang menampakkan diri, atau
yang membicarakan gejala. Hakikat segala sesuatu adalah reduksi atau
penyaringan dan menurut Husserl ada tiga macam reduksi yaitu:
a.
reduksi
fenomologis, kita harus menyaring pengalaman-pengalaman kita agar mendapat
fenomena semurni-murninya.
b.
Reduksi
eidetis.
c.
Reduksi
transendental
8.
Metode
Dialektis : Hegel dan Mark
Dengan jalan
mengikuti dinamik pikiran atau alam sendiri menurut triade tesis, antitetis,
sistesis di capai hakikat kenyataan. Dialektis itu di ungkapkan sebagai tiga
langkah, yaitu dua pengertian yang bertentangan kemudian di damaikan
(tesis-antitesis-sintesis).
9.
Metode
Non-positivistis
Kenyataan yang
di pahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti
berlaku pada ilmu pengetahuan positif (eksakta).
10.
Metode
analitika bahasa : Wittgenstein
Dengan jalan
analisa pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan
filosofis. Metode ini di nilai cukup netral sebab tidak sama sekali
mengendalikan salah satu filsafat. Keistimewaannya adalah semua kesimpulan dan
hasilnya senantiasa di dasarkan kepada penelitian bahasa yang logis.[1]
C.
METODE ILMIAH
Metode
merupakan prosedur atau cara seseorang
dalam melakukan suatu kegiatan untuk mempermudah memecahkan masalah secara
teratur, sistematis, dan terkontrol. Ilmiah adalah sesuatu keilmuan untuk
mendapatkan pengetahuan secara alami berdasarkan bukti fisis.[2]
Jadi, bila kita
menjabarkan lebih luas dari metode ilmiah adalah suatu proses atau cara
keilmuan dalam melakukan proses ilmiah (science project) untuk memperoleh
pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis.
Cara untuk
memperoleh pengetahuan atau kebenaran pada metode ilmiah haruslah diatur oleh
pertimbangan-pertimbangan yang logis (Mc Cleary, 1998). Ilmu pengetahuan
seringkali berhubungan dengan fakta, maka cara mendapatkannya, jawaban-jawaban
dari semua pertanyaan yang ada pun harus secara sistematis berdasarkan
fakta-fakta yang ada.
Hubungan antara
penelitian dan metode ilmiah adalah sangat erat atau bahkan tak terpisahkan
satu dengan lainnya. Intinya bahwa metode ilmiah adalah cara menerapkan
prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran.
Dengan adanya
metode ilmiah ini pertanyaan-pertanyaan dasar dalam mencari kebenaran seperti
apakah yang dimaksud, apakah benar demikian, mengapa begini/begitu, seberapa
jauh, bagaimana hal tersebut terjadi dan sebagainya, akan lebih mudah terjawab.
Adapun menurut
schoeder et al. mengungkapkan metode ilmiah dimulai dari identifikasi dan
perumusan masalah. Setelah masalah ditetapkan dan dibatasi diambil suatu
hipotesis untuk dilakukan pengujian dan dari hasil pengujian dapat diambil
kesimpulan.[3]
D.
SIKAP ILMIAH
1.
Rasa Ingin Tahu
Rasa ingin tahu merupakan awal atau sebagai
dasar untuk melakukan penelitian-penelitian demi mendapatkan sesuatu yang baru.
2.
Jujur
Dalam melakukan penelitian, seorang sainstis
harus bersikap jujur, artinya selalu menerima kenyataan dari hasil
penelitiannya dan tidak mengada-ada serta tidak boleh mengubah data hasil
penelitiannya.
3.
Tekun
Tekun berarti tidak mudah putus asa. Dalam
melakukan penelitian terhadap suatu masalah tidak boleh mudah putus asa.
Seringkali dalam membuktikan suatu masalah, penelitian harus diulang-ulang
untuk mendapatkan data yang akurat. Dengan data yang akurat maka kesimpulan
yang didapat juga lebih akurat.
4.
Teliti
Teliti artinya bertindak hati-hati, tidak
ceroboh. Dengan tindakan yang teliti dalam melakukan penelitian, akan
mengurangi kesalahan-kesalahan sehingga menghasilkan data yang baik.
5.
Objektif
Objektif artinya sesuai dengan fakta yang ada.
Artinya, hasil penelitian tidak boleh dipengaruhi perasaan pribadi. Semua yang
dikemukakan harus berdasarkan fakta yang diperoleh. Sikap objektif didukung
dengan sikap terbuka artinya mau menerima pendapat yang benar dari orang lain.
6.
Terbuka Menerima Pendapat Yang Benar
Artinya bahwa kita tidak boleh mengklaim diri
kita yang paling benar atau paling hebat. Kalau ada pendapat lain yang lebih
benar/tepat, kita harus menerimanya.
E.
SARANA BERFIKIR ILMIAH
Untuk melakukan
kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berfikir ilmiah secar teratur dan
cermat. Penguasaan sarana berfikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat
imperatif bagi seorang ilmuwan. Tanpa menguasai hl ini maka kegiatan ilmiah
yang baik tak dapat dilakukan.[4]
Tujuan
mempelajari sarana berfikir ilmiah ini adalah
untuk memungkinkan kita untuk melakukan penelahaan ilmiah secara baik,
sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan
yang memungkinkan kita untuk bias memecahkan masalah kita sehari-hari. Atau
secara lebih sederhana, sarana berfikir ilmiah merupakan alat bagi metode
ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik, sebab fungsi sarana ilmiah adalah
membantu proses metode ilmiah, dan bukan merupakan ilmu itu sendiri. Untuk dapat
melakukan kegiatan berfikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang
berupa bahasa, logika, matematika, dan statistika. Bahasa merupakan alat
komunikasi verbal yang dipakai untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada
orang lain. Maka penalaran ilmiah menyadarkan diri kepada proses logika
deduktif dan logika induktif. Matematika mempunyai peranan penting dalam
berfikir deduktif sedangkan statistika mempunyai peranan penting dalam berfikir
induktif.[5]
F.
KRITERIA METODE ILMIAH
Supaya suatu
metode yang digunakan dalam penelitian disebut metode ilmiah, maka metode
tersebut harus mempunyai kriteria sebagai berikut:
1.
Berdasarkan Fakta
Keterangan-keterangan yang ingin diperoleh
dalam penelitian, baik yang akan dikumpulkan dan yang dianalisa haruslah berdasarkan
fakta-fakta yang nyata. Janganlah penemuan atau pembuktian didasar-kan pada
daya khayal, kira-kira, legenda-legenda atau kegiatan sejenis.
2.
Bebas dari Prasangka
Metode ilmiah harus mempunyai sifat bebas
prasangka, bersih dan jauh dari pertimbangan subjektif. Menggunakan suatu fakta
haruslah dengan alasan dan bukti yang lengkap dan dengan pembuktian yang
objektif. Apabila hasil dari suatu penelitian, misalnya, menunjukan bahwa ada
ketidak sesuaian dengan hipotesis, maka kesimpulan yang diambil haruslah
merujuk kepada hasil tersebut, meskipun katakanlah, hal tersebut tidak disukai
oleh pihak pemberi dana.
3.
Menggunakan Prinsip Analisa
Dalam memahami serta memberi arti terhadap
fenomena yang kompleks, harus digunakan prinsip analisa. Semua masalah harus
dicari sebab-musabab serta pemecahannya dengan menggunakan analisa yang logis,
Fakta yang mendukung tidaklah dibiarkan sebagaimana adanya atau hanya dibuat
deskripsinya saja. Tetapi semua kejadian harus dicari sebab-akibat dengan
menggunakan analisa yang tajam.
4.
Menggunakan Hipotesa
Dalam metode ilmiah, peneliti harus dituntun
dalam proses berpikir dengan menggunakan analisa. Hipotesa harus ada untuk
mengonggokkan persoalan serta memadu jalan pikiran ke arah tujuan yang ingin
dicapai sehingga hasil yang ingin diperoleh akan mengenai sasaran dengan tepat.
Hipotesa merupakan pegangan yang khas dalam menuntun jalan pikiran penelitian.
5.
Menggunakan Ukuran Obyektif
Seorang peneliti harus selalu bersikap objektif
dalam mencari kebenaran. Semua data dan fakta yang tersaji harus disajikan dan
dianalisis secara objektif. Pertimbangan dan penarikan kesimpulan harus
menggunakan pikiran yang jernih dan tidak berdasarkan perasaan.
6.
Menggunakan Teknik Kuantifikasi
Dalam memperlakukan data ukuran kuantitatif
yang lazim harus digunakan, kecuali untuk artibut-artibut yang tidak dapat
dikuantifikasikan Ukuran-ukuran seperti ton, mm, per detik, ohm, kilogram, dan
sebagainya harus selalu digunakan Jauhi ukuran-ukuran seperti: sejauh mata
memandang, sehitam aspal, sejauh sebatang rokok, dan sebagai¬nya Kuantifikasi
yang termudah adalah dengan menggunakan ukuran nominal, ranking dan rating.
G.
LANGKAH-LANGKAH METODE ILMIAH
1.
Karakterisasi (Observasi dan Pengukuran)
Metode ilmiah bergantung pada karakterisasi
yang cermat atas subjek investigasi. Dalam proses karakterisasi, ilmuwan
mengidentifikasi sifat-sifat utama yang relevan yang dimiliki oleh subjek yang
diteliti. Selain itu, proses ini juga dapat melibatkan proses penentuan
(definisi) dan observasi; observasi yang dimaksud seringkali memerlukan
pengukuran dan/atau perhitungan yang cermat.
Proses pengukuran dapat dilakukan dalam suatu
tempat yang terkontrol, seperti laboratorium, atau dilakukan terhadap objek
yang tidak dapat diakses atau dimanipulasi seperti bintang atau populasi manusia.
Proses pengukuran sering memerlukan peralatan ilmiah khusus seperti termometer,
spektroskop, atau voltmeter, dan kemajuan suatu bidang ilmu biasanya berkaitan
erat dengan penemuan peralatan semacam itu.
Hasil pengukuran secara ilmiah biasanya ditabulasikan
dalam tabel, digambarkan dalam bentuk grafik, atau dipetakan, dan diproses
dengan perhitungan statistika seperti korelasi dan regresi. Pengukuran dalam
karya ilmiah biasanya juga disertai dengan estimasi ketidakpastian hasil
pengukuran tersebut. Ketidakpastian tersebut sering diestimasikan dengan
melakukan pengukuran berulang atas kuantitas yang diukur.
2.
Hipotesis
Hipotesis merupakan suatu ide atau dugaan
sementara tentang penyelesaian masalah yang diajukan dalam proyek ilmiah.
Hipotesis yang berguna akan memungkinkan prediksi berdasarkan deduksi. Prediksi
tersebut mungkin meramalkan hasil suatu eksperimen dalam laboratorium atau
observasi suatu fenomena di alam. Prediksi tersebut dapat pula bersifat
statistik dan hanya berupa probabilitas. Hasil yang diramalkan oleh prediksi
tersebut haruslah belum diketahui kebenarannya (apakah benar-benar akan terjadi
atau tidak). Hanya dengan demikianlah maka terjadinya hasil tersebut menambah
probabilitas bahwa hipotesis yang dibuat sebelumnya adalah benar. Jika hasil
yang diramalkan sudah diketahui, hal itu disebut konsekuensi dan seharusnya
sudah diperhitungkan saat membuat hipotesis. Jika prediksi tersebut tidak dapat
diobservasi, hipotesis yang mendasari prediksi tersebut belumlah berguna bagi
metode bersangkutan dan harus menunggu metode yang mungkin akan datang. Sebagai
contoh, teknologi atau teori baru boleh jadi memungkinkan eksperimen untuk
dapat dilakukan. Yang perlu diingat, jika menurut hasil pengujian ternyata
hipotesis tidak benar bukan berarti penelitian yang dilakukan salah.
3.
Melakukan Eksperimen
Eksperimen dirancang dan dilakukan untuk
menguji hipotesis yang diajukan. Perhitungkan semua variabel, yaitu semua yang
berpengaruh pada eksperimen. Hasil eksperimen tidak pernah dapat membenarkan
suatu hipotesis, melainkan meningkatkan probabilitas kebenaran hipotesis
tersebut.
Hasil eksperimen secara mutlak bisa menyalahkan
suatu hipotesis bila hasil eksperimen tersebut bertentangan dengan prediksi
dari hipotesis. Bergantung pada prediksi yang dibuat, berupa-rupa eksperimen
dapat dilakukan. Pencatatan yang detail sangatlah penting dalam eksperimen,
untuk membantu dalam pelaporan hasil eksperimen dan memberikan bukti
efektivitas dan keutuhan prosedur yang dilakukan. Pencatatan juga akan membantu
dalam reproduksi eksperimen. Ada tiga jenis variabel yang perlu diperhatikan
pada eksperimen: variabel bebas, variabel terikat, dan variabel kontrol.
Varibel bebas merupakan variabel yang dapat diubah secara bebas. Variabel
terikat adalah variabel yang diteliti, yang perubahannya bergantung pada
variabel bebas. Variabel kontrol adalah variabel yang selama eksperimen
dipertahankan tetap.
Usahakan hanya satu variabel bebas selama
eksperimen. Pertahankan kondisi yang tetap pada variabel-variabel yang
diasumsikan konstan, catat hasil eksperimen secara lengkap dan seksama.
4.
Menyimpulkan hasil eksperimen
Proses ilmiah merupakan suatu proses yang
iteratif, yaitu berulang. Pada langkah yang manapun, seorang ilmuwan mungkin
saja mengulangi langkah yang lebih awal karena pertimbangan tertentu.
Ketidakberhasilan untuk membentuk hipotesis yang menarik dapat membuat ilmuwan
mempertimbangkan ulang subjek yang sedang dipelajari. Ketidakberhasilan suatu
hipotesis dalam menghasilkan prediksi yang menarik dan teruji dapat membuat ilmuwan
mempertimbangkan kembali hipotesis tersebut atau definisi subjek penelitian.
Ketidakberhasilan eksperimen dalam menghasilkan sesuatu yang menarik dapat
membuat ilmuwan mempertimbangkan ulang metode eksperimen tersebut, hipotesis
yang mendasarinya, atau bahkan definisi subjek penelitian itu. Dapat pula
ilmuwan lain memulai penelitian mereka sendiri dan memasuki proses tersebut
pada tahap yang manapun.[6]
Mereka dapat mengadopsi karakterisasi yang
telah dilakukan dan membentuk hipotesis mereka sendiri, atau mengadopsi
hipotesis yang telah dibuat dan mendeduksikan prediksi mereka sendiri. Sering kali eksperimen dalam proses ilmiah tidak dilakukan
oleh orang yang membuat prediksi, dan karakterisasi didasarkan pada eksperimen
yang dilakukan oleh orang lain.
Jika
hasil eksperimen tidak sesuai dengan hipotesis :
a.
Jangan ubah hipotesis
b.
Jangan abaikan hasil eksperimen
c.
Berikan alasan yang masuk akal mengapa tidak
sesuai
d.
Berikan cara-cara yang mungkin dilakukan
selanjutnya untuk menemukan penyebab ketidaksesuaian
e.
Bila cukup waktu lakukan eksperimen sekali lagi
atau susun ulang eksperimen.
H.
Hakikat
Filsafat Ilmu dan Metode Ilmiah
Sebagaimana
telah diuraikan sebelumnya, bahwa filsafat sering kali disebut oleh sejumlah
pakar sebagai induk dari ilmu. Filsafat merupakan disiplin ilmu yang berusaha
untuk menunjukan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat
dan lebih memadai.[7]
Juraid Abdul
Latif dan Amsal Bakhtiar mengatakan, dalam kajian sejarah dapat dijelaskan
bahwa perjalanan manusia telah mengantarkan dalam berbagai fase kehidupan.
Sejak zaman kuno, pertengahan dan modern sekarang ini telah melahirkan suatu
cara pandangterhadap gejala alam denagan berbagai variasinya. Proses
perkembangan dari berbagai fase kehidupan primitif kuno dan klasik menuju
manusia modern telah melahirkan lompatan pergeseran yang sangat signifikan pada
masing masing zaman. Disinilah pemikiran filosofi telah mengantarkan umat
manusia dari mitologi oriented pada satu arah menuju pola piker ilmiah oriented,
perubahan dari pola piker mitosentris ke logosentris dalam berbagai segmentasi
kehidupan.
Dalam
perkembangan kehidupan ilmu mengalami kemajuan. Perkembangan ilmu ini dapat
terwujud karena adanya aktivitas yang berupa penelitian yang dilakukan oleh
para ilmuan. Para pengamat yang bukan ilmuan sains menyebut cara kerja ini
sebagai metode ilmiah.
Banyak ilmuan
mengemukakan bahwa metode ilmiah yang dikemukakan oleh bacon dan popper itu
terlalu sederhana dan kurang memadai. Mereka mengemukakan bahwa metode ilmiah
terdiri atas serangkaian kegiatan berupa pengenalan dan perumusan masalah,
pengumpulan informasi yang relevan, perumusan hipotesis.
Secara Lughawi
(semantik) filsafat berarti cinta kebijaksanaan dan kebenaran. Maksud sebenerna
yaitu pengetahuan tentang ada dari kenyataan yang paling umum dan kaidah –
kaidah realitas serta hakikat manusia dalam segala aspek perilakunya seperti
logika, etika, estetika dan teori pengetahuan. Maka problem filsafat dalam
hakikatnya memang merupakan problem falsafi yang kaya dengan banyak konsep dan
pengertian.
Karakteristik filsafat dapat di identifikasi
sebagai berikut:
1.
Filsafat yaitu
berfikir secara kritis
2.
Filsafat yaitu
berfikir dalam bentuknya yang sistematis.
3.
Filsafat
menghasilkan sesuatu yang runtut.
4.
Filsafat yaitu
berfikir secara rasional.
5.
Filsafat
bersifat komprehensif.
Dari beberapa
pendapat para ilmuan dapat disimpulkan bahwa pengertian filsafat ilmu itu
mengandung konsepsi dasar yang mencangkup hal-hal berikut:
1.
Sikap kritis
dan evaluative terhadap criteria ilmiah.
2.
Sikap
sistematis berpangkal pada metode ilmiah.
3.
Sikap analisis
objektif, etis dan falsafi atas landasan ilmiah.
4.
Sikap konsisten
dalam bagungan teori serta tindakan ilmiah.
I.
KESIMPULAN
Sebenarnya jumlah metode filsafat hampir sama banyaknya dengan
defenisi dari para ahli dan filsuf sendiri karena metode ini adalah suatu alat
pendekatan untuk mencapai hakikat sesuai dengan corak pandangan filsuf itu
sendiri.
Metode
merupakan prosedur atau cara seseorang
dalam melakukan suatu kegiatan untuk mempermudah memecahkan masalah secara
teratur, sistematis, dan terkontrol. Ilmiah adalah sesuatu keilmuan untuk
mendapatkan pengetahuan secara alami berdasarkan bukti fisis
Dengan adanya
metode ilmiah ini pertanyaan-pertanyaan dasar dalam mencari kebenaran seperti
apakah yang dimaksud, apakah benar demikian, mengapa begini/begitu, seberapa
jauh, bagaimana hal tersebut terjadi dan sebagainya, akan lebih mudah terjawab.
Untuk melakukan
kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berfikir ilmiah secar teratur dan
cermat. Penguasaan sarana berfikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat
imperatif bagi seorang ilmuwan. Tanpa menguasai hl ini maka kegiatan ilmiah
yang baik tak dapat dilakukan.
Proses ilmiah
merupakan suatu proses yang iteratif, yaitu berulang. Pada langkah yang
manapun, seorang ilmuwan mungkin saja mengulangi langkah yang lebih awal karena
pertimbangan tertentu. Ketidakberhasilan untuk membentuk hipotesis yang menarik
dapat membuat ilmuwan mempertimbangkan ulang subjek yang sedang dipelajari.
DAFTAR PUSTAKA
Latif, Mukhtar. 2014. Filsafat Ilmu.
Jakarta : Prenadamedia Group.
Saebani, Beni Ahmad. 2009. Filsafat Ilmu.
Bandung: CV Pustaka setia.
Suriasumantri, Jujun S. 2009. Filsafat Ilmu.
Jakarta: Pt. Penebar Swadaya.
http://yesiyesonk.blogspot.co.id/2015/05/filsafat-ilmu-metode-ilmiah.html, diakses pada tanggal 08
September 2017, Pukul 15.11 WIB
https://sites.google.com/site/blogilmupengetahuan/artikel-pengetahuan/metodefilsafatilmu, diakses pada tanggal 09 September 2017, Pukul10:13 WIB
[1] https://sites.google.com/site/blogilmupengetahuan/artikel-pengetahuan/metodefilsafatilmu
[3] Ibid Hlm.130
[4] Jujun
S.Suriasumantri. filsafat ilmu : Jakarta, Pt penebar swarda, 2014, Hlm.
165.
[5] Ibid
Hlm. 167
[6] Beni ahmad
Saebeni. Filsafat ilmu. Hlm. 22
[7] http://yesiyesonk.blogspot.co.id/2015/05/filsafat-ilmu-metode-ilmiah.html
Komentar
Posting Komentar