EPISTEMOLOGI




EPISTEMOLOGI
Description: C:\Documents and Settings\Administrator\My Documents\Downloads\images.jpg
DISUUN
O
L
E
H:
KELOMPOK IV
NAMA:                                                                                               NIM:
RIZQI RAHMADHANI                                                         1520400005
SITI KHADIJAH                                                                   1520400018
WARDAH HUSNI                                                                 15204000      

DOSEN PENGAMPU:
Dr. SEHAT SULTONI DALIMUNTHE

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAM ISLAM NEGERI PADANGSIDIMPUAN
T.A 2017/2018







KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. Karena berkat hidayah-Nya makalah ini dapat di selesaikan. Makalah ini dapat di susun dengan harapan dapat melengkapi dalam tugas perkuliahan Filsfat Ilmu.
Pada kesempetan ini pula pemakalah mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dosen yang telah membimbing dan memberikan arahannya dalam pembuatan makalah yang berjudul Epistemologi.
Semoga setelah membaca makalah ini, kita dapat memahami dan menambah wawasan mengenai Epistemologi. Dalam pembuatan makalah ini, kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Terlepas dari kekurangan-kekurangan malkalah ini, kami berharap semoga makalah ini  bermanfaat bagi pembaca dan menjadikan amal saleh bagi kami . Amiin...

Padangsidimpuan,   05 September   2017




 Penulis





BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pengenalan Filsafat ini meliputi tentang pengertian, ciri-ciri berfikir kefilsafatan , gaya berfilsafat, cabang-cabang filsafat, serta prinsip-prinsip dalam berfilsafat, sementara cabang-cabang utama filsafat meliputi tentang metafisika, epistemologi, dan aksiologi yang dalam hal ini pemakalah menyajikan pokok bahasan yang berjudul tentang Epistemologi yang merupakan bagian kedua dari cabang-cabang utama filsafat.
Maka dalam makalah ini pemakalah menampilkan beberapa pandangan tentang pengertian, dan istilah- istilah dalam pembahasan epistemologi. Bagian kedua dari cabang-cabang utama filsafat ini memainkan peranan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan  sesuai dengan kurun waktu yang melingkupinya masing-masing.
B.         Rumusan Masalah
1.      Apakah yang di maksud dengan epistemologi?
2.      Apakah istilah- istilah dalam epistemologi?
3.      Apakah manfaat mempelajari epistemologi?
C.         Tujuan
1.      Mengetahui maksud dari epistemologi
2.      Mengetahui istilah-istilah dalam epistemologi
3.      Mengetahui menfaat mempelajari epistemologi








BAB II
PEMBAHASAN
A.           Epistemologi Filsafat
Bidang kedua adalah epistemologi atau teori pengetahuan. Epistemologi berasal dari bahasa yunani ”episteme” dan “logos” artinya teori.dengan demikian epistemologi secara eimologis berarti teori pengetahuan. Istilah-istilah lain yang setara dengan epistemologi adalah:
a)        Kriteria, yakni cabang filsafat yang membicarakan ukuran benar atu tidaknya pengetahuan.
b)        Kritik pengetahuan, yaitu pembahasan mengenai pengetahuan secara kritis
c)        Gnosiologi, yaitu perbincangan mengenai pengetahuan yang bersifat ilahiah(Gnosis.)
d)       Logika material, yaitu pembahasan logis dari segi isinya, sedangkan logika formal lebih menekankan pada segi bentuknya.
Objek material epistemologi adalah pengetahuan sedangkan objek formalnya adalh hakikat pengetahuan. Sedangkan hakikat filsuf menawarkan aturan yang cermat dan terbatas untuk menguji berbagai tuntutan lain yang menjadikan kita dapat memiliki pengetahuan, tetapi setiap perangkat aturan harus benar-benar mapan. Sebab defenisi tentang “kepercayaan”, “kebenaran” merupakan problem yang tetap dan terus menerus ada, sehingga teori pengetahuan tetap merupakan suatu bidang utama dalam penyelidikan filsafat.
Persoalan-persoalan penting yang dikaji dalm epistemologi berkisar pada masalah:asal-usul pengetahuan, peran pengalaman dan akal, dalam pengetahuan, hubungan antara pengetahuan dan keniscayaan, hubungan antara pengetahuan dan kebenaran, kemungkinan skeptisisme universal, dan bentuk- bentuk perubahan pengetahuan yang berasal dari konseptualisasi baru mengenai dunia. Semua persoalan tersebut di atas terkait dengan persoalan-persoalan penting filsafat lainnya seperti:kodrat kebenaran, kodrat pengalaman dan makna.
Semua pengetahuan hanya dikenal dan ada di dalam pemikiran manusia, tanpa pikiran pengetahuan tak aka nada eksis. Oleh karena itu keterkaitan antara pengetahuan dengan pikiran merupakan sesuatu yang kodrati. Bahm menyebutkan delapan hal penting yang berfungsi membentuk struktur pikiran manusia, yaitu: (1) mengamati (observes) ; pikiran berperan dalam mengamati objek-objek. Dalam melaksanakan pengamatan terhadap objek itu maka pikiran haruslah mengandung kesadaran. Oleh karena itu di sini pikiran merupakan suatu bentuk kesadaran. Kendatipun demikian pikiran tidak melulu kesadaran, sehingga kita perlu juga mempelajari berbagai bentuk pikiran.
(2) menyelidiki (inquires) ; ketertarikan pada objek dikondisikan oleh jenis-jenis objek yang tampil. Objek- objek secara kodrati merupakan suatu caara penampakan, cara  mereka dipersepsi , dikonsepsi, diingat, diantisipasi baik secara sederhana dan secara kompleks, dinamika atau statistikanya, perubahannya, atau ketetapannya, keterhubungan pada antesedannya, konsekuannya, atau cara berkolerasi dengan objek- objek yang lain. (3) percaya (belives) ; manakala suatu objek  muncul dalam kesadaran, biasanya objek-objek itu di terima sebagai objek yang menampak. Kata percaya biasanya dilawankan dengan keraguan. Sikap merima sesuatu yang menampak sebagai pengertian yang menandai setelah keraguan, dinamakan kepercayaan. Orang yang mengembangkan rasa keraguan dalam menerima kebenaran suatu objek dinamakan “skeptikus”.
(4) hasrat (desires) ; kodrat hasrat ini mencakup biologis dan psikologis dan interaksi dialektik antara tubuh dan jiwa. Karena pikiran dibutuhkan untuk aktualisasi hasrat, maka kia dapat mengatakannya sebagai hasrat pikiran. Tanpa pikiran tak mungkin ada hasrat. Beberapa hasrat muncul dari kebutuhan jasmaniah : nafsu makan, minum, istirahat, tidur, dan lain- lain. (5) maksud (intends) kendatipun seseorang memiliki maksud ketika akan mengobservasi, menyelidiki, mempercayai dan berhasrat, namun sekaligus perasaannya tidak berbeda atu bahkan terdorong ketika melakukannya. Perubahan kehendak dari intensitas minimal ke maksimal, dari keinginan menerima hal-hal yang menampak akan menimbulkan pengaruh juga.(6) mengatur(organizes) ; setiap pikiran adalah suaru organisme yang teratur dalam diri seseorang. Pikiran mengatur melalui kesadaran yang sudah menjadi. Kesadaran adalah suatu kondisi dan fungsi mengetahui secara bersama. Pikiran mengatur melalui intuisi yakni melalui kesadaran penampakan dalam setiap kehadiran.
(7) Menyesuaikan (adapts) ;menyesuaikan segala pikiran-pikiran sekaligus melakukan pembatasan- pembatasan yang dibebankan pada pikiran melalui kondisi keberadaan yang tercakup dalam otak dari kultural dan keuntungan yang terlihat pada tindakan, hasrat dan kepuasan. (8) menikmati (enjoys) ; pikiran-pikiran mendatangkan keasyikan. Orang yang asyik dalam menekuni suatu persoalan, maka ia akan menikmati itu dalam pikirannya. Jenis kesenangan (juga kesusahan) bermacam-macam, dan sangat rumit, sehingga tidak mungkin diuraikan secara rinci di sini. Kebaikan secara intrinsik ada dalam rasa senang, sedang keburukan secara intrinsik ada dalam rasa susah. Epistemologi filsafat membicarakan tiga hal, yaitu objek filsafat, (yaitu yang dipikirkan), cara memperoleh pengetahuan filsafat dan ukuran kebenaran (pengetahuan) filsafat[1].
 B.     Objek Filsafat
                             Tujuan berfilsafat ialah menemukan kebenaran yang sebenarnya, yang terdalam. Jika hasil pemikiran disusun, maka susunan itulah yang kita sebut Sistematika Filsafat. Sistematika atau struktur filsafat dalam garis besar terdiri atas ontology, epistemologi, dan aksiologi. Isi setiap cabang filsafat ditentukan oleh objek apa yang diteliti (dipikirkan)-nya. Jika ia memikirkan pendidikan maka jadilah filsafat pendidikan. Jika yang dipikirkannya hukum maka hasilnya tentulah filsafat hukum, dan seterusnya. Seberapa luas yang mungkin dapa dipikirkan? Luas sekali. Jika ia memikirkan pengetahuan jadilah ia filsaf ilmu, jika memikirkan etika jadilah filsafat etika, dst.
                             Objek penelitian filsafat lebih luas dari objek penelitian sain. Sain hanya meneliti objek yang ada, sedangkan filsafat meneliti objek yang ada dan  mungkin ada. sebenarnya masih ada objek lain yang disebut objek forma yang menjelaskan forma yang menjelaskan filsafat kemendalaman penelitian filsafat. Ini dibicarakan pada epistemologi filsafat.
                             Perlu juga ditegaskan (lagi) bahwa sain meneliti objek-objek yang ada dan empiris; yang ada tapi abstrak (tidak empiris) tidak dapat diteliti oleh sain. Sedangkan filsafat meneliti objek yang ada tapi abstrak, adapun yang mungkin ada, sudah jelas abstrak, itupun jika ada.  Epistemologi membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan[2].
                             Tatkala manusia baru lahir, ia tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun. Nanti, tatkala ia 40 tahunan, pengetahuannya banyak sekali sementara kawannya yang seumur dengan dia mungkin mempunyai pengetahuan yang lebih banyak daripada dia dalam bidang yang sama atau berbeda. Bagaimana mereka itu masing-masing mendapat pengetahuan itu? Mengapa dapat juga berbeda tingkat akurasinya? Hal-hal semacam ini dibicarakan di dalam epistemologi.
                             Runes dalam kamusnya (1971) menjelaskan bahwa epistemology is the branch of philoshopy which investigates the origin, structure, methods and validity of knowledge. Itulah sebabnya kita sering menyebutnya dengan istilah filsafat pengetahuan karena ia membicarakan hal pengetahuan. Istilah epistemologi untuk pertama kalinya muncul dan digunakan oleh J. F. Ferrier pada tahun 1854(Runes, 1971:94).Pengetahuan manusia ada tiga macam, yaitu pengetahuan sains, pengetahuan filsafat, dan pengetahuan mistik. Pengetahuan itu dieroleh manusia melalui berbagai cara dan dengan menggunakan berbagai alat. Ada beberapa aliran yang berbicara tentang ini. 
1.         Empirisme
kata ini berasal dari kata yunani empeirikos yang berasal dari kata empeiria, artinya pengalaman. Menurut aliran ini menusia memperolah pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada kata yunaninya, pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman inderawi. Manusia tahu es dingin karena ia menyantuhnya, gula manis karena ia mencicipinya. Kelemahan aliran ini cukup banyak. Kelemahan pertama ialah indera terbatas. Benda yang jauh kelihatan kecil. Apakah benda itu kecil? Tidak. Keterbatasan kemampuan indera ini dapat melaporkan objek tidak sebagaimana adanya ; dari sini akan terbentuk pengetahuan yang salah.
2.        Rasionalisme
Secara singkat aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastianpengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia, menurut aliran ini, memperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap objek. Orang mengatakan (biasanya) bapak aliran ini ialah Rene Descartes (1596-1650); ini benar. Akan tetapi, sesungguhnya paham seperti ini sudah ada jauh sebelum sebelum demam itu. Orang- orang yunani kuno telah menyakini juga bahwa akal adalah alat dalam memperoleh pengetahuan yang benar, lebih-lebih pada Aristoteles .bagi aliran ini kekeliruan pada aliran empirisme, yang disebabkan alat indera tadi, dapat dikoreksi seandainya akal digunakan. Benda yang jauh kelihatan kecil karena bayangannya yang jauh di mata kecil, kecil karena jauh. Gula pahit bagi orang yang demam karena lidah orang yang demam memang tidak normal. Fatamorgana adalah gejala alam. Begitulah seterusnya.
3.        Positivisme
Tokoh aliran ini adalh August Compte (1798-1857). Ia mengnut empirisisme. Ia berpendapat bahwa indera itu amat penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indera akan dapat di koreksi lewat eksperimen. Eksperimen memerlukan ukuran-ukuran yang jelas. Panas diukur dengan derajat panas, jauh diukur dengan meteran, berat dengan kiloan(timbangan atu neraca), dan sebagainya . kita tidak cukup mengatakan api panas, matahari panas,kopi panas, ketiak panas. Memerlukan ukuran yang teliti. Dari sinilah kemajuan sains benar-benar dimulai. Kebenaran diperoleh dengan akal, didukung bukti empiris yang terukur. “Terukur” itulah sumbangan positivisme.
4.        Intuisionisme
Henri Bergson(1859-1941) adalah tokoh aliran ini. Ia menganggap tidak hanya indera yang terbatas, akal juga terbatas. Objek-objek yang kita tangkap itu adalah objek yang selalu berubah, demikian Bergson. Jadi pengetahuan kia tenatangnya tidak pernah tetap. Intelek atau akal juga terbatas. Akal hanya dapat memahami suatu objek bila ia mengonsentrasikan dirinya pada objek itu, jadi dalam hal seperti itu manusia tidak mengetahui keseluruhan ( unique), tidak juga dapat memahami bagian- bagian dari objek, kemudian bagian-bagian itu di gabungkan oleh akal. Itu tidak sama dengan pengetahuan menyeluruh tentang objek itu.
Dengan menyadari keterbatasan indera dan akal seperti diterangkan di atas, Bergson mengembangkan satu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia, yaitu intuisi. Ini adalah hasil evolusi pemahaman yang tertinggi. Kemampuan ini mirip dengan instinct, tetapi berbeda dalam kesadaran dan kebebasannya. Pengembangan kemampuan ini (intuisi) memerlukan suatu usaha. Kemampuan yang inilah yang dapat memahami kebenaran yang utuh, yang tetap, yang unique. Intuisi ini menangkap objek secara langsung tanpa melalui pemikiran. Jadi, indera dan akal hanya mampu menghasilkan pengetahuan yang tidak utuh (spatial), sedangkan intuisi dapat menghasilkan pengetahuan yang utuh, tetap. Ada sebuah isme lagi yang barangkali mirip sekali dengan intuisionisme, namanya iluminasionisme. Aliran ini berkembang di kalangan tokoh-tokoh agama; di dalam Islam di sebut teori kasuf. Teori ini menyatakan bahwa manusia, yang hatinya telah bersih. Telah “siap”, sanggup menerima pengetahuan dari Tuhan. Aliran ini terbentang juga di dalam sejarah pemikiran Islam, boleh diketakan sejak awal dan memuncak pada Mulla Shadra.
Kemampuan menerima pengetahuan secara langsung itu diperoleh dengan cara latihan, yang di dalam Islam disebut suluk, secara lebih spesifik disebut riyadlah. Riyadlah artinya latihan, secara lebih umu metode ini diajarkan di dalam thariqot. Dari kemampuan ini dapat dipahami bahwa mereka tentu mempunyai pengetahuan tingkat tinggi yang banyak sekali dan meyakinkan. Pengetahuan itu diperoleh bukan lewat indera dan bukan lewat akal, melainkan lewat hati. Dalam hal ini sama dengan intuisionisme.Menurut ajaran thasawuf atau thariqot. Pada khususnya, manusia itu dioengaruhi  ( ditutupi) oleh hal-hal yang material, dipengaruhi oleh nafsunya. Bila nafsu itu dapat dikendalikan, penghalang material (hijab) disingkirkan, maka kekuatan rasa itu mampu bekerja, laksana antene.[3]










BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
          Sistematika atau struktur filsafat dalam garis besar terdiri atas ontology, epistemologi, dan aksiologi. Epistemologi membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan. Pengetahuan manusia ada tiga macam, yaitu pengetahuan sains, pengetahuan filsafat, dan pengetahuan mistik. Pengetahuan itu dieroleh manusia melalui berbagai cara dan dengan menggunakan berbagai alat
          Perlu juga ditegaskan (lagi) bahwa sain meneliti objek-objek yang ada dan empiris; yang ada tapi abstrak (tidak empiris) tidak dapat diteliti oleh sain. Sedangkan filsafat meneliti objek yang ada tapi abstrak, adapun yang mungkin ada, sudah jelas abstrak, itupun jika ada.  Epistemologi membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan.
                                                 











DAFTAR PUSTAKA
Mustansyir Rizal dan Munir Misnal, Filsafat Ilmu (Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 2006)
Tafsir Ahmad, Filsafat Ilmu (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013)
Tafsir Ahmad, Filsafat Umum (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013)






[1] Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu (Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 2006). Hal. 16-22.
[2] Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013). Hal. 80-81.
[3] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013). Hal. 23-28.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

METODE TAJRIBI DAN BURHANI

METODE IRFANI DAN BAYANI

FILSAFAT, ILMU, DAN FILSAFAT ILMU