AKSIOLOGI
AKSIOLOGI
D
I
S
U
S
U
N
OLEH: KELOMPOK V
NAMA NIM
ELIA SAFITRI : 1520400020
RASIMA HARAHAP : 1520400003
SYARIAH HARAHAP : 1520400016
DOSEN PEMBIMBING:
Dr. SEHAT SULTONI DALIMUNTHE
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU
KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI
PADANGSIDIMPUAN
T.A
2016/2017
AKSIOLOGI
A. Pengertian aksiologi
Aksiologi berasal dari
perkataan axios (Yunani) yang berarti
nilai dan logos yang berarti teori.
Jadi aksiologi adalah “teori tentang nilai”. Sedangkan arti aksiologi yang
terdapat didalam bukunya Jujun S. Suriasumantri Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer bahwa aksiologi diartikan
sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang
diperoleh. Menurut Bramel, aksiologi terbagi dalam tiga bagian. Pertama, moral conduct, yaitu tindakan moral, bidang ini
melahirkan disiplin khusus, yakni etika. Kedua, esthetic expression, yakni ekspresi keindahan. Bidang ini
melahirkan keindahan. Ketiga, sosio-political
life, yaitu kehidupan social politik, yang akan melahirkan filsafat
sosio-politik. Dalam Encyclopedia of
Filosofi dijelaskan, aksiologi disamakan dengan Value and Valuation.
Dari definisi-definisi
mengenai aksiologi diatas, terlihat dengan jelas bahwa permasalahan yang utama
adalah mengenai nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia
untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Teori tentang
nilai yang dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika.[1]
Pada dasarnya ilmu harus
digunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Dalam hal ini, ilmu
dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup
manusia dengan memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, dan kelestarian
atau manusia.[2]
a.
Nilai etika
Membicarakan pengertian
etika tidak akan pernah terlepas dari sejarah kemunculannya yang dimulai dari
periode klasik, akan tetapi berdasarkan naskah-naskah kuno yang ditemukan dan
diterjemahkan ternyata karya-karya pemikiran Yunani klasik jauh lebih dulu ditulis.
Itu diketahui berdasarkan konteks mata rantai sejarah ketika bangsa Arab
menaklukan sebuah wilayah, bahasa asli Negara tersebut tidak dihilangkan
perjalan sejarah tersebut sampai pada suatu kesimpulan bahwa etika berasal dari
kata “ethos” (Yunani) yang berarti adat kebiasaan, dalam istilah lain para ahli
dalam bidang etika menyebutkan dengan moral. Etika merupakan salah satu teori
yang dibicarakan ketika membahas teori tentang nilai dan ilmu kesusilaan yang
membahas perbuatan baik dan melakukan kebenaran. Sedangkan moral adalah bentuk
pelaksanaannya dalam kehidupan. Perkembangan etika tidak lepas dari
substansinya bahwa etika merupakan suatu ilmu yang membicarakan masalah
perbuatan dan tingkah laku manusia, mana yang dinili baik dan buruk. Istilah lain
dari etika adalah moral, susila, budi pekerti atau akhlak. Etika dalam bahasa
Arab disebut Akhlaq, merupakan jamak dari kata khuluq yang berarti adat
kebiasaan, perangai, tabiat, watak, adab dan agama.[3]
Adapun Al-Ghazali dalam
kitabnya, Ihya ulum ad-Din menyebutkan “ suatu sifat yang tetap pada jiwa, yang
daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tidak membutuhkan
kepada pikiran”.[4]
b.
Teori estetika
Penilaian baik dan buruk
kerap dikaitkan dengan tingkah laku dan moral atau tindakan manusia, sedangkan
nilai indah dan tak indah cenderung diarahkan ke dalam segala hal yang
berkaitan dengan seni. Estetika berusaha untuk menemukan nilai indah secara
umum yang kemudian dalam perkembangannya bermunculan beberapa teori yang
berkaitan dengan estetika.
Estetika berasal dari
bahasa Yunani “aisthetika” pertama kali digunakan oleh filsuf Alexander Gotlieb
Baumgarten pada 1735 yang diartikan sebagai ilmu tentang hal yang biasa
diarasakan lewat perasaan.[5]
Estetika adalah salah satu
cabang filsafat yang berkaitan dengan seni. Secara sederhana diartikan estetika
adalah ilmu yang membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk dan bagaimana
seseorang bisa merasakan estetika sebagai sebuah filosofi yang mempelajari
nilai-nilai sensoris yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentiment
dan rasa.
Menurut Plato, keindahan
adalah realitas yang sebenarnya dan tidak pernah berubah-ubah. Bagi Plotinus
keindahan itu merupakan pancaran akal ilahi. Bila yang hakikat (Ilahi), ia
menyatakan dirinya atau memancarkan sinar atau dalam realitas penuh, maka
itulah keindahan.[6]
Kant dalam studi ilmiah psikologi tentang estetika menyatakan, akal itu
memiliki indera ketiga atas piker dan kemauan yaitu indera rasa yang memiliki
kekhususan, kesenangan estetika.[7]
B.
Dasar Aksiologi Ilmu
Kegunaan ilmu adalah
menghasilkan pengetahuan yang dapat digunakan untuk tujuan antara lain :
1.
Membuktikan kebenaran
(truth).
2.
Menemukan pengetahuan
(knowledge).
3.
Memperoleh suatu pemahaman
fenomena (understanding, comprehention, insight).
4.
Memberikan penjelasan
(explanation).
5.
Melakukan pengendalian
(control).
6.
Melakukan penerapan
(application, invention, production).
Ilmu dikembangkan oleh
ilmuwan untuk mencapai kebenaran atau memperoleh pengetahuan. ilmu telah
memberi kemudahan manusia dalam mengendalikan kekuatan alam. Ilmu adalah
netral, tidak mengenal sifat baik dan buruk. Manusia yang menjadi penentu untuk
apa ilmu digunakan.
Landasan aksiologi ilmu
adalah analisis tentang penerapan hasil temuan ilmu (ilmu pengetahuan).
penerapan ilmu untuk memudahkan manusia untuk memenuhi kebutuhan dan keluhuran
hidupnya.
C.
Perkembangan Metode Ilmu
a.
Tahap
perkembangan ilmu
Ilmu dapat ditinjau dari
sekumpulan pengetahuan ilmiah, dan sekumpulan aktivitas ilmiah, dan/atau metode
ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah. Berikut ini
merupakan perkembangan untuk mendapatkan pengetahuan, dimulai dari yang tidak
ilmiah menjadi metode ilmiah.[8]
1)
Common sense (akal sehat)
a)
Berakar pada adat dan tradisi
menjadi kebiasaan dan pengulangan (landasan kurang kuat).
b)
Cenderung kabur dan
samar-samar.
c)
Pengetahuan tidak teruji,
karena kesimpulan biasanya ditarik dengan asumsi yang tidak diuji dulu.
d) Didukung metode trial and error serta pengalaman.
2)
Seni
Applied art yang mempunyai kegunaan
langsung pada kehidupan badaniah dan Fine
art yang dapat memperkaya kegunaan spiritual. Sifat seni adalah deskriptif
dan fenomenologis serta ruang lingkupnya terbatas. Oleh karena itu seni mencoba
memberi makna sepenuhnya terhadap suatu objek. Komunikasi merupakan inti dari
seni.
3)
Rasionalisme
Pembuktian kebenaran
pengetahuan berdasarkan penalaran akal atau rasional. Premis dan proposisi
sebelumnya menjadi acuan berfikir rasionalisme, yaitu berpikir dari yang
sifatnya universal, kemudian mencoba melakukan kesimpulan pada fenomena yang
sifatnya spesifik.
4)
Empirisme
a) Jumlah observasi harus besar.
b)
Observasi harus
diulang-ulang pada variasi kondisi yang luas.
5)
Falsifikasionisme
Namun suatu fakta/fenomena
baru dapat menolak teori yang sudah ada atau menggagalkan teori yang sudah ada.
Kondisi ini dikenal dengan sebutan falsifikasi.
6)
Relativisme
Pada relativisme, teori
dikatakan baik harus dinilai relative dari segi standar yang diterima oleh
masyarakat, sedangkan standar itu secara tipikal akan berlainan sesuai dengan
kultur dan historis masyarakat masing-masing.
7)
Pragmatis
John Dewey menyatakan
bahwa tidak perlu mempersoalkan kebenaran suatu pengetahuan, melainkan sejauh
mana kita dapat memecahkan persoalan yang timbul dalam masyarakat.
8)
Filsafat Ilmu
Filsafat meletakkan
dasar-dasar suatu pengetahuan. landasan berpikir filsafat menggunakan metode
analisis dan sintesis. Analisis pengetahuan yang dihasilakn dari berpikir
rasionalisme dan empirisme, kemudian dilakukan suatu sintesis baru merupakan
kajian Filsafat Ilmu.
D.
Evolusi Ilmu
Sebuah metode ilmiah
bergantung pada pengamatan yang objektif dalam mendifinisikan subjek yang
diteliti, memperoleh informasi tentang perilakunya dan didalam perobaannya.
Pengamatan melibatkan aktivitas persepsi, juga proses kognitif, artinya
pengamatan tidak pasif, tetapi secara aktif melibatkan aktivitas untuk
membedakan objek yang diamati dengan lingkungannya. Pengamatan empiris dapat
mengacu pada hipotesa dalam sebuah teori.
Setiap ilmu dapat
mengalami evolusi, bisa berubah menjadi ilmu baru, berkembang dan bahkan hilang
dengan berjalannya waktu.
E.
Konsep Ilmu
1.
Ilmu
Sebagai Aktivitas
Ilmu merupakan aktivitas
pemikiran manusia (rasional dan logika) atau proses riset yang digunakan untuk
tujuan tertentu. Riset adalah istilah umum untuk penelitian, dalam kaitannya
dengan ilmu penegtahuan dan teknologi, maka riset atau penelitian dapat
didefinisikan sebagai suatu usaha yang sistematik untuk mencari kebenaran yang
belum diketahui melalui metode ilmiah.
2.
Ilmu
Sebagai Metode Ilmiah
Berpikir adalah kegiatan mental
yang menghasilkan pengetahuan. prosedur dalam mendapatkan pengetahuan mengikuti
alur berpikir yang dikenal sebagai metode ilmiah. Metode ilmiah adalah
merupakan ekpresi mengenai cara berpikir. Metode ilmiah adalah prosedur untuk
mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Metode adalah suatu prosedur atau
cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematik
(terpola). Logika, matematika, statistika dalam kajian filsafat ilmu merupakan
sarana ilmu.
a.
Definisi
Metode Ilmiah
The Liang Giemendefinisikan
: metode ilmiah adalah prosedur yang dipergunakan oleh ilmuwan dalam pencarian
sistematik terhadap pengetahuan baru dan peninjauan kembali pengetahuan yang
telah ada. Proses dan langkah yang dengan itu ilmu memperoleh pengetahuan.
metode ilmiah dibangun oleh pola procedural, tata langkah, teknik dan peranti
alat ukur.
Suriasumantri J.S. Metode
ilmiah merupakan prosedur (langkah sistematik) dalam mendapatkan penegtahuan
yang disebut ilmu pengetahuan. metode ilmiah merupakan suatu prosedur atau cara
mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah yang sistematis.
b.
Ragam
Proposisi
Adalah pernyataan yang
berupa kalimat, bisa lebih terdiri dari dari satu kalimat yang kebenarannya
sudah diuji.
1.
Asas ilmiah
Asas ilmiah atau prinsip
adalah proposisi yang mengandung kebenaran umum berdasarkan fakta-fakta yang
telah diamati dan menjadi pedoman dalam melakukan tindakan. Contoh : Etika
Kedokteran, Etika Keperawatan, gizi seimbang, efisiensi ekonomi (menghasilkan
hasil yang maksimal dengan penggunaan sumber daya yang tertentu atau
menggunakan sumber daya yang minimal).
2.
Kaidah ilmiah
Kaidah ilmiah atau hukum,
adalah sebuah proposisi yang mengungkapkan hubungan tertib yang dapat diperiksa
kebenarannya diantara fenomena, sehingga berlaku untuk berbagai fenomena sejenisnya.
Contoh : hukum penawaran
dan permintaan. Suhu panas meningkat diikuti pernapasan yang meningkat pula.
3.
Teori ilmiah
Teori ilmiah adalah
sekumpula proposisi yang saling berkaitan secara logis untuk member penjelasan
mengenai sebuah objek, fenomena secara utuh dan menyeluruh. Contoh Teori
Kinerja, Teori pencemaran.
F.
Ciri Pokok Ilmu
Ilmu penegtahuan adalah
hasil (output) dari aktivitas riset dan logika ilmu dengan metode ilmiah.
Pengetahuan adalah segenap apa yang kita ketahui tentang suatu objek tertentu,
termasuk didalamnya adalah ilmu, seni dan agama. Pengetahuan dikumpulkan dengan
tujuan untuk menjawab permasalahan kehidupan yang sehari-hari dihadapi manusia
dan untuk digunakan dalam menawarkan berbagai kemudahan kepadanya. Pengetahuan
ilmiah atas ilmu dapat diibaratkan sebagai alat bagi manusia dalammemecahkan
berbagai masalah atau persoalan yang dihadapinya.
Ciri Pokok Pengetahuan
Ilmiah :
1.
Empiris : hasil yang diperoleh berdasarkan fakta actual yang bisa ditangkap oleh
indera (observasi, percobaan).
2.
Sistematik
: pengetahuan yang telah tersusun ada hubungan ketergantungan dan teratur
dengan pengetahuan sebelumnya (proposisi).
3.
Objektif
dan universal : apa yang diketahui sesuai dengan apa adanya, tanpa ada unsur
keinginan dan kecenderungan subjektif dari penelaahnya. Apa yang berlaku disatu
Negara juga berlaku dinegara lain.
4.
Analisis
: penegtahuan dapat diuraikan secara rinci kedalam bagian dapat dipelajari
sifat, hubungan dan peranannya.
5.
Dapat
dikomunikasikan (communicable), dan diterima umum.
KESIMPULAN
Aksiologi yaitu teori
nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Nilai
etika yati teori yang membahas tentang perbuatan baik dan melakukan kebenaran.
Estetika yaitu nilai keindahan yang biasa dirasakan lewat perasaan. Dasar
aksiologi Ilmu yaitu menghasilkan pengetahuan yang dapat digunakan untuk tujuan
antara lain membuktikan kebenaran, menemukan pengetahuan, dan memberikan
penjelasan. Tahap perkembangan ilmu yaitu akal sehat, seni, rasionalisme,
empirisme, falsifikasionisme, relativisme, pragmatis dan filsafat ilmu. Konsep
ilmu dapat digunakan sebagai aktifitas dan sebagai metode ilmiah. Adapun ciri
pokok pengetahuan ilmiah atas ilmu yaitu empiris, sistematik, objektif dan
universal, analisis, dan dapat dikomunikasikan.
DAFTAR PUSTAKA
Dedi Supriyadi.
Pengantar Filsafat Islam Teori dan
Praktik. Bandung: CV Pustaka Setia 2010.
Estethika-wikipedia
bahasa Indonesia. Ensklopediabebas.idWikipedia.org/wiki/estethika. Diakses
Minggu, 1 Juni 2014.
Muhammad Alfian,
Filsafat Etika Islam, Bandung:Pustaka
Setia, 2010.
Stefanus
Supriyanti. Filsafat Ilmu. Jakarta:
Prestasi Pustakaraya. 2013.
Stefanus
Supriyanto. Filsafat ilmu.
Jakarta:Prestasi Pustakaraya. 2013.
Surajiyo. 2007.
Filsafat ilmu dan perkembangannya di Indonesia. Jakarta :Bumi Aksara.
[5] Estethika-wikipedia
bahasa Indonesia. Ensklopediabebas.idWikipedia.org/wiki/estethika. Diakses
Minggu, 1 Juni 2014.
[6] Dedi
Supriyadi. Pengantar Filsafat Islam Teori
dan Praktik. (Bandung:CV Pustaka Setia 2010) h.93.
[7]Ibid.
[8].
Dr,dr. Stefanus Supriyanti. Filsafat Ilmu. Jakarta:Prestasi Pustakaraya. 2013.
Hal. 52.
Komentar
Posting Komentar